Yayasan Owa Jawa

  • PDF
  • Cetak

Willi, Sasa dan Jatna : Sebuah Perjalanan Menuju Kebebasan

  • Selasa, 14 November 2017 12:36
  • Terakhir Diupdate ( Selasa, 14 November 2017 13:02 )
  • Oleh dns

Pada tanggal 24 Oktober 2017, bertepatan dengan hari Owa Internasional (International Gibbon Day), Yayasan Owa Jawa kembali berhasil melepasliarkan lima individu owa jawa di area Gunung Puntang, Hutan Lindung Malabar, Bandung, Jawa Barat.

Tiga individu diantaranya adalah satu keluarga owa yang terdiri dari owa jantan Willie, owa betina Sasa dan bayi mereka Jatna. Willie dan Sasa sebelumnya telah melalui masa rehabilitasi selama 5-7 tahun di Javan Gibbon Center, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Bogor. Setelah melalui masa perjodohan yang panjang, akhirnya pasangan itu berhasil melahirkan bayi owa yang diberi nama Jatna. Kini, ketiganya telah resmi menjadi penghuni salah satu area hutan di gunung Puntang, Hutan Lindung Malabar, setelah sebelumnya melalui masa habituasi selama dua bulan di Gunung Puntang.

Sasa dan Jatna, menuju kebebasan

Pelepasliaran ini merupakan pelepasliaran yang ke lima kalinya. Sebelumnya, 15 Juni 2013 telah dilepasliarkan sepasang Owa Jawa bernama Kiki dan Sadewa, pada 27 Maret 2014 dilepasliarkan satu keluarga Owa jawa, Bombom (betina), Jowo (jantan) dan anak mereka Yani (betina) dan Yudi (jantan), pada 24 April 2015 dilepasliarkan pasangan Robin-Moni dan Moli-Nancy, dan keluarga Mel-Pooh-Asri pada tanggal 10 Agustus 2016.

Pelepasliaran ini merupakan buah kerjasama yang diinisasi oleh Yayasan Owa Jawa bersama mitra Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem  (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Perum Perhutani, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Conservation International Indonesia, Silvery Gibbon Project, dan Pertamina EP asset 3 Subang Field.

Acara pelepasliaran pun berjalan dengan khidmat, dihadiri oleh para stakeholder dari instansi terkait, aparat, masyarakat setempat dan awak media cetak maupun elektronik. Pada hari itu, juga hadir Ibu Endang yang merupakan adopter Willie semasa Willie menjalani masa rehabilitasi di Javan Gibbon Center.

Willie, setelah rilis

Program adopsi owa jawa hingga kini masih tersedia di Javan Gibbon Center. Masyarakat yang ingin turut berpartisipasi dalam proses rehabilitasi owa jawa secara langsung dapat menjadi adopter bagi owa jawa yang sedang direhabilitasi dengan cara memberikan donasi untuk perawatan owa jawa. Dengan demikian masyarakat yang benar-benar peduli akan owa jawa dapat menjadi bagian upaya konservasi owa jawa secara nyata.

Selain itu yang paling penting dalam menyelamatkan owa jawa tentunya adalah dengan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keberadaan owa jawa dan hutan sebagai tempat tinggal mereka. Sehingga keinginan untuk memelihara satwa liar seperti owa jawa juga upaya perusakan hutan sebagai habitat alami mereka dapat dihindari. Dengan demikian alam pun dapat terjaga dengan baik.

 

Willie, Sasa dan Jatna di Gunung Puntang

  • PDF
  • Cetak

Ukong : Si Mungil dari Mega Mendung

  • Rabu, 01 Februari 2017 10:41
  • Terakhir Diupdate ( Rabu, 01 Februari 2017 10:55 )
  • Oleh dns

Javan Gibbon Center kembali mendapatkan anggota baru. Kali ini satu individu owa jawa bernama Ukong diserahkan secara sukarela oleh seorang warga di daerah Mega Mendung, Bogor. Tepat pada 30 Januari 2017 kemarin, tim JGC menjemput Ukong langsung ke sebuah villa tempat Ukong dipelihara. Ukong telah dipelihara sejak bayi. Pemiliknya mengaku mendapatkan Ukong dari Pasar Pramuka dan tertarik untuk memelihara karena kasihan terhadap Ukong. Diperkirakan usia Ukong kini sudah mencapai 7 tahun.

Ukong pun terbilang cukup jinak. Menurut penjaga yang bertugas memberi makan Ukong, Ukong senang jika kepalanya dielus. Sehari-harinya Ukong diberi makan buah-buahan pasar. Kondisi fisik Ukong pun nampak sehat, meski ukuran tubuhnya terbilang kecil untuk owa seusianya.

Ukong menjalani hari-hari di kandang di sebuah villa

Manusia memang diciptakan berbeda dengan hewan. Selain memiliki naluri, manusia juga diberi nurani yang dikaruniakan Tuhan YME. Rasa kasihan yang dirasakan pemilik Ukonglah yang mendorong dirinya untuk membeli dan memelihara Ukong. Tetapi nuranilah yang kemudian menyadarkan beliau untuk menyerahkan Ukong agar dapat menjalankan proses rehabilitasi di JGC. Karena sebesar apa pun rasa kasih sayang kita pada owa jawa, tidaklah adil rasanya untuk membiarkan mereka terkungkung dalam sebuah kandang. Apalagi mengingat pentingnya peran owa jawa di hutan. Maka tak ada tempat lain yang paling baik untuk owa jawa selain di hutan, bersama dengan pepohonan dan sesama owa jawa lainnya.

Apa yang sudah terjadi tentu tidak dapat diulang kembali, hanya bisa diperbaiki. Untuk itulah penyebaran informasi terus dilancarkan, agar JGC dapat bekerja sama dengan masyarakat dalam upaya konservasi owa jawa ini. Karena kerja sama antara JGC, institusi pemerintahan dan masyarakatlah yang menjadi kunci masalah jual-beli satwa liar. Masyarakat perlu tahu, bahwa owa jawa bukanlah hewan “lucu” yang bisa dipelihara. Owa jawa adalah hewan langka endemik yang keberadaannya dilindungi oleh undang-undang.

Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

Ukong diserahkan pemiliknya secara sukarela untuk direhabilitasi

Bahkan owa jawa dengan kondisi yang terlihat normal dan sehat seperti Ukong saja masih tetap membutuhkan banyak usaha dalam merehabilitasinya. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun agar Ukong menjadi liar kembali dan siap untuk dilepas ke alam bersama pasangan atau keluarga barunya nanti. Belum lagi proses penjodohan yang membutuhkan banyak kesabaran. Karena jangan pernah lupa dengan sifat owa jawa yang begitu selektif dalam memilih pasangan karena sifat monogaminya.

Maka mari hentikan perdagangan satwa liar dengan tidak membeli atau memelihara mereka. Jika menemukan ada yang memelihara maka laporkankanlah segera pada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (BBKSDAE), Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KKLH) atau hubungi JGC secara langsung. Apalagi keberadaan spesies owa jawa di alam memang sudah mengkhawatirkan. Tidak banyak yang  tersisa di alam. Salah dua penyebab utamanya adalah perburuan liar dan perusakan hutan yang menjadi tempat tinggal owa jawa.

Jadi, jika esok lusa anda menemukan owa jawa diperjual-belikan, apa yang akan ANDA lakukan?

  • PDF
  • Cetak

Bayi owa Jawa kembali lahir di Pusat Rehabilitasi Javan Gibbon Center

  • Rabu, 25 Januari 2017 10:15
  • Terakhir Diupdate ( Rabu, 25 Januari 2017 10:27 )
  • Oleh dns

Sebuah kado istimewa kedua bagi Yayasan Owa Jawa di bulan ini. Bersamaan dengan lahirnya bayi owa di area pelepasliaran owa jawa di Gunung Puntang pada 14 Januari 2017 lalu, satu bayi owa jawa lainnya lahir di pusat rehabilitasi Javan Gibbon Center (JGC). Bayi owa jawa tersebut adalah keturunan pertama dari pasangan Willie (Jantan) dan Sasa (Betina). Keduanya telah dipasangkan sejak tahun 2012.

 

Bayi Willie dan Sasa menikmati matahari pagi

 

Setelah penantian panjang selama 5 tahun, akhirnya perjodohan Willie yang berusia 9 tahun dan Sasa yang diperkirakan berusia 11 tahun membuahkan hasil yang begitu dinanti-nantikan. Kini, keduanya tengah sibuk menjaga dan merawat bayi mereka. Willie sang ayah pun terlihat begitu perhatian dan selalu berada di dekat Sasa dan bayinya. Ikatan emosional antara Willie dan Sasa pun menjadi semakin kuat dengan kehadiran bayi mereka. Harapannya, akan tiba waktunya mereka merasakan kebebasan yang sesungguhnya di alam liar, rumah dimana mereka seharusnya tinggal.

 

Willie dan Sasa merawat bayi mereka

 

Tidak mudah untuk menjodohkan owa jawa; terlebih owa jawa dikenal sebagai salah satu spesies yang monogami. Karena sifat dasar itulah owa jawa cenderung selektif dalam memilih pasangan. Pemilihan pasangan yang tidak sesuai dapat berakibat pasangan owa tidak dapat berkembang biak. Padahal keturunan merekalah yang akan menjaga keberlangsungan populasi spesies owa jawa di alam.

Mengapa penting sekali bagi owa jawa hasil rehabilitasi untuk menghasilkan keturunan?

Owa jawa yang telah diambil dari hutan kebanyakan telah kehilangan sifat “liar”nya. Untuk itu upaya rehabilitasi dilakukan, yaitu mengenalkan kembali gaya hidup owa yang sesungguhnya di alam liar. Meski demikian, owa jawa hasil rehabilitasi tidak akan 100% sama dengan owa liar yang sesungguhnya namun setidaknya mendekati perilaku owa liar. Harapan besar tertumpu pada keturunan mereka yang akan hidup bebas di alam, tanpa campur tangan manusia.

 

Willie, sang ayah, ikut merawat bayinya

 

Lahirnya bayi owa di JGC ini tentu merupakan berita bahagia. Tetapi alih-alih lahir di balik kawat kandang rehabilitasi, bukankah jauh lebih baik jika owa jawa dapat lahir di alam liar tempat tinggal mereka yang sesungguhnya? Jadi janganlah kita lupa dengan ancaman sesungguhnya terhadap keberlangsungan spesies endemic pulau Jawa ini.

Perburuan liar dan jual-beli satwa ilegal masih menjadi musuh besar spesies ini. Bayangkan saja, owa jawa hanya dapat menghasilkan keturunan setiap 3-3,5 tahun sekali. Sementara perburuan liar terus terjadi setiap tahun. Karena setiap tahun ada saja owa jawa yang harus direhabilitasi, dengan kemungkinan masih banyak masyarakat yang memeliharanya. Jika hal itu terus terjadi, maka sebanyak apa pun owa yang direhabilitasi, sebanyak apa pun bayi owa yang lahir, populasi owa jawa di alam akan terus menurun dan kita tidak akan mampu mengejar ketinggalan itu. Edukasi pun harus terus dilakukan. Kenyataan bahwa owa jawa adalah satwa dilindungi yang tidak boleh dipelihara dan diperjual-belikan harus disebarluaskan.

Jadi, bagaimana menurut ANDA?Masih ingin memelihara owa jawa?

Halaman 1 dari 11