Yayasan Owa Jawa

  • PDF
  • Cetak

Feni sayang, Feni yang malang

  • Jumat, 28 Oktober 2016 14:12
  • Terakhir Diupdate ( Jumat, 28 Oktober 2016 15:10 )
  • Oleh dns

Jum’at, 21 Oktober 2016 lalu, Javan Gibbon Center (JGC) kembali mendapatkan anggota baru. Seekor owa betina dewasa bernama Feny. Feny diantarkan oleh rekan-rekan COP (Center for Orangutan Protection) langsung dari Purwokerto, Jawa Tengah. Dengan sukacita tim JGC pun menyambut kedatang Feny.

Namun, betapa kagetnya tim JGC ketika melihat Feny secara langsung. Feny datang dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Tubuhnya begitu lemah, Ia hanya dapat menggerakkan kepalanya sesekali ke kiri dan ke kanan. Tim COP pun menjelaskan keadaan Feny dan bercerita mengenai perjalanan Feny hingga seperti sekarang.

Feny, datang dalam keadaan yang sangat lemah

Berdasarkan penelusuran, tim COP menerima informasi mengenai Feny dari sebuah komunitas pecinta binatang di Purwokerto, yang mengaku menemukan seekor owa liar dalam keadaan terluka di jalan. Owa tersebut kemudian dibawa ke klinik hewan terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama dan akhirnya mendapatkan perawatan selama kurang lebih 2 minggu. Tak lama tim COP pun datang dan menjemput owa tersebut untuk kemudian diantarkan ke JGC. Owa itu pun diberi nama Feny, sebagai apresiasi terhadap dokter hewan yang telah merawatnya selama 2 minggu di Purwokerto.

Meski demikian, masih ada beberapa pertanyaan yang mengganjal. Karena perilaku Feny sama sekali tidak mencirikan perilaku satwa liar. Ia begitu tenang dan tidak tampak terganggu dengan banyaknya manusia di sekitarnya. Karena dalam kondisi paling lemah sekalipun, owa liar akan gelisah jika bertemu dengan manusia. Sehingga timbul pertanyaan paling besar, benarkah Feny owa liar? Mungkinkah Feny adalah owa peliharaan yang kemudian ditinggalkan pemiliknya?

Feny, terbaring lemah dan tidak mampu menggerakkan anggota tubuhnya

Tidaklah mudah untuk melakukan rehabilitasi terhadap satwa liar bahkan satwa yang sedang dalam kondisi paling sehat sekalipun. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali mengenalkan seekor owa terhadap kehidupan di alam liar. Owa harus benar-benar siap secara fisik dan mental untuk dilepasliarkan dan kemudian bertahan hidup di habitatnya. Maka untuk owa yang mengalami masalah fisik dan kesehatan serius seperti Feny, perlu dilakukan upaya pemulihan kesehatan terlebih dahulu hingga ia mencapai kondisi optimalnya.

Sejauh ini Feny adalah owa dengan kondisi yang paling mengkhawatirkan yang pernah JGC temui. Sejak kedatangannya Feny begitu tidak berdaya ia hanya terbaring lemah. Bahkan hingga hari ke-5 sejak kedatangannya, tubuh Feny tidak banyak memberikan respon. Gangguan sistem syaraf yang dialaminya membuat refleks pada kedua kaki Feny hilang dan air kencing yang tertampung pada kantung kemihnya tidak dapat dikeluarkan oleh tubuhnya secara spontan. Belum lagi luka lama yang ada di bagian bokong yang entah ada sejak kapan. Perawatan secara intensif pun terus diupayakan oleh tim JGC untuk memulihkan kondisi Feny. Memberinya asupan gizi yang sesuai berikut pertolongan medis dan terapi sebaik mungkin dengan harapan Feny dapat kembali menggerakkan anggota-anggota tubuhnya seperti sedia kala, juga metabolisme tubuh yang semakin membaik.

Dengan upaya semaksimal mungkin, besar harapan JGC untuk dapat mengembalikan kondisi Feny. Setelah terapi akupuntur yang dilakukan -bekerja sama dengan Pusat Penelitian Satwa Primata (PSSP), berangsur-angsur Feny dapat menggerakkan tangan dan kakinya. Tim JGC pun semakin optimis memberikan perawatan terbaik bagi Feny. Meski pada akhirnya, dengan berat hati tim JGC harus menerima kepergian Feny, tepatnya pada hari Jum'at, 28 Oktober 2016. Setidaknya, tim JGC telah memberikan yang terbaik untuk Feny yang malang.

Pertolongan medis yang diupayakan oleh tim JGC bekerjasama dengan Pusat Penelitian Satwa Primata (PSSP)

Rasa duka yang mendalam tidak dapat JGC sembunyikan. Pertanyaan terbesar JGC pun muncul kembali ke permukaan. Benarkah Feny owa liar dan bukan bekas peliharaan?

Memang tidaklah mustahil untuk Feny mendapatkan rehabilitasi dan kemudian dilepasliarkan, jika saja Feny mampu bertahan. Beberapa keluarga dan pasangan owa telah berhasil direhabilitasi kemudian dilepasliarkan oleh JGC. Tetapi mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Jika dugaan bahwa Feny adalah owa peliharaan benar adanya, maka tidak bisa diabaikan permasalahan utama yang sesungguhnya yang menyebabkan owa malang seperti Feny hadir diantara kita. Akar masalah yang menyebabkan terancamnya keberadaan satwa liar di alam. Hanya ada dua alasan signifikan, yaitu kerusakan habitat dan jual-beli satwa ilegal yang menjadi cikal bakal perburuan secara liar.

Jika dicermati dengan seksama, tidaklah sulit untuk memahami kedua hal tersebut, hukum ekonomi sederhana mengenai supply and demand (penawaran dan permintaan) dapat menjadi solusi efektif. Perburuan satwa liar tidak akan marak jika masyarakat memiliki kesadaran untuk tidak membeli atau memelihara satwa liar dilindungi. Kegiatan perburuan satwa liar pun kemungkinan akan berkurang drastis karena tidak tersedianya pasaran yang memadai.

Owa jawa, satwa yang dilindungi, bukan untuk dipelihara

Untuk itu, upaya penyuluhan dan edukasi menjadi sangat krusial. Pemberian informasi dan pengetahuan mengenai hutan dan seisinya sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Hal itu pula yang senantiasa dilakukan oleh Yayasan Owa Jawa (YOJ). Dengan harapan YOJ dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga hutan dan dampak yang ditimbulkan jika memelihara satwa liar, khususnya owa Jawa. Sehingga tidak akan ada lagi kisah sedih owa seperti yang dialami oleh Feny.

Selanjutnya, apa yang dapat kita lakukan? Selain memberikan dukungan terhadap program-program seperti JGC, tentu hal paling sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan menanamkan pemahaman terhadap diri sendiri. Untuk kemudian disebarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabat terdekat. Mari kita sebar-luaskan informasi mengenai owa Jawa. Mari kita pahami keunikan mereka, keindahan nyanyian mereka, pentingnya keberadaan mereka di hutan, serta kondisi aktual mereka kini yang memasuki status terancam punah. Mari kita cintai mereka dengan setulus-tulusnya, tanpa mengganggu kehidupan mereka maupun habitatnya di hutan.

JGC berkomitmen untuk terus berupaya semaksimal mungkin dalam memberikan yang terbaik bagi keberlangsungan spesies mengagumkan ini. Bagaimana dengan Anda?

  • PDF
  • Cetak

Rambo : Owa Jawa yang Kehilangan Jati Dirinya

  • Minggu, 04 September 2016 00:00
  • Terakhir Diupdate ( Minggu, 11 September 2016 17:46 )
  • Oleh dns

Mari berkenalan dengan Rambo, seekor owa Jawa berjenis kelamin Jantan yang menjadi penghuni terbaru di Javan Gibbon Center (JGC). Rambo diperkirakan lahir di tahun 2012 dan telah dipelihara sejak bayi. Pemilik pertama mendapatkannya dari proses jual beli satwa ilegal. Pada Desember 2015 lalu, ia sempat mengalami pergantian pemilik. Hingga akhirnya pemilik kedua menghubungi Tim Yayasan Owa Jawa (YOJ) dengan maksud menyerahkan Rambo secara sukarela untuk kemudian menjalani proses rehabilitasi di JGC. Tanpa menunggu lama, pada 4 september 2016 pun, tim Rescue YOJ langsung meluncur ke lokasi di daerah Semplak, Bogor, menjemput Rambo di rumah sang pemilik kedua.

Saat teman-teman dari YOJ tiba di lokasi, yang menarik perhatian adalah rambut perak Rambo yang terlihat begitu bersih dan terawat. Ternyata, Rambo memang kerap mendapatkan perawatan rutin seperti dimandikan dengan shampoo. Bagi sang pemilik, Rambo terhitung sudah jinak. Ia dibiarkan berkeliaran di rumah dengan rantai di perutnya. Rambo juga sering disuapi makan, makanan kesukaannya adalah nasi dengan sayur bayam. Bahkan, sang pemilik juga menambahkan bahwa Rambo senang jika rambutnya disisir. Jika sang pemilik sudah memegang sisir, dengan patuh Rambo akan menghampiri lalu duduk membelakangi sang pemilik. Ia tahu, rambutnya akan disisir.

Rambo, menghabiskan keseharian dalam kandang

Siapakah Rambo? Pantaskah ia mendapat perlakuan seperti itu?

Ini adalah sebagian contoh kecil yang begitu miris. Jika Rambo adalah seorang anak kecil maka tidak jadi masalah ia mendapatkan perlakuan seperti di atas. Tapi pada kenyataannya, Rambo adalah seekor satwa liar yang diambil dari alam dan tidak seharusnya menjalani hidup seperti layaknya manusia. Ia berhak untuk hidup diantara pohon-pohon tinggi menjulang di hutan. Ia berhak untuk bersosialisasi dengan owa jawa lainnya dan kemudian berkembang biak.

Tidak perlu dipertanyakan lagi, seberapa besar rasa sayang sang pemilik terhadap Rambo. Tetapi rasa sayang itu begitu tidak pada tempatnya. Rambo, mungkin tidak paham siapa dirinya. Rambo adalah owa jawa yang telah kehilangan jati dirinya. Beruntung kini Rambo memiliki kesempatan untuk menjadi “liar” kembali. Untuk merasakan berayun dari pohon ke pohon, melantunkan nyanyian-nyanyian indah khas owa jawa dan bersosialisasi dengan sesama spesiesnya.

Rambo, dalam perjalanan menuju pusat rehabilitasi (JGC)

Tapi bayangkan jika ternyata di luar sana masih banyak Rambo-Rambo lainnya. Jika masih banyak dari kita yang terlibat jual-beli satwa ilegal. Tahukah anda, bahwa satwa liar itu diambil dari hutan dengan paksa? Dipisahkan dari keluarganya dengan paksa? Jika hal demikian terjadi pada manusia, tentu hal itu akan ramai di media massa.

Mengapa kita tidak bisa berlaku sama kepada mereka?

Padahal keberadaan para satwa di alam liar memegang peran penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Owa jawa contohnya. Satwa endemik pulau Jawa ini berperan dalam proses regenerasi hutan. Secara tidak langsung owa jawa membantu menyebar biji buah-buahan yang dimakan untuk kemudian tumbuh menjadi pohon baru. Bayangkan jika owa jawa lenyap dari setiap hutan. Sanggupkah kita menjaga hutan yang begitu luasnya?

Bersediakah kita untuk kehilangan salah satu spesies kera yang begitu cantik, unik dan langka ini?

Jika tidak, bukalah mata dan telinga, ingatkan teman dan keluarga untuk tidak memelihara owa jawa maupun satwa dilindungi lainnya. Biarkan mereka bebas di hutan sana, melakukan perannya, menjaga keutuhan hutan yang begitu penting bagi manusia sebagai sumber penghasil oksigen, air dan lain sebagainya.

Jika tidak sekarang, kapan lagi?

  • PDF
  • Cetak

Mel, Pooh dan Asri : Saatnya Kembali ke Alam Liar

  • Kamis, 11 Agustus 2016 00:00
  • Terakhir Diupdate ( Selasa, 06 September 2016 12:14 )
  • Oleh Administrator

10 Agustus 2016 menjadi tanggal yang sangat istimewa bagi Yayasan Owa Jawa. Pada hari itu, bertepatan dengan Hari Konservasi Alam, Yayasan Owa Jawa berkesempatan untuk melakukan pelepasliaran yang ke-empat kalinya di kawasan Gunung Puntang, Hutan Lindung Gunung Malabar, Perum Perhutani KPH Bandung Selatan, Jawa Barat. Sejak 2013, tercatat sepuluh individu owa Jawa telah dilepasliarkan di kawasan ini.

Asri, dalam pelukan sang ibu, Pooh.

Kali ini, owa Jawa yang beruntung untuk kembali merasakan kebebasan di alam liar adalah satu keluarga owa Jawa yang terdiri dari Mel (Jantan dewasa), Pooh (Betina dewasa) dan anak mereka, Asri, owa Jawa betina yang baru berusia 17 bulan. Asri adalah anak pertama mereka dan lahir di Javan Gibbon Center, pusat rehabilitasi owa Jawa yang terletak di kaki Gunung Gede Pangrango. Nama Asri sendiri adalah singkatan dari Asia-Afrika. Nama tersebut diberikan langsung oleh presiden Joko Widodo pada puncak acara Konferensi Asia Afrika di Bandung, 24 April 2015 lalu.

Setelah melalui proses rehabilitasi yang panjang dan tidak mudah, akhirnya keluarga ini dapat merasakan kembali hidup di alam liar. Peristiwa ini tentu menjadi salah satu keberhasilan yang sangat dinantikan oleh Yayasan Owa Jawa, yang tentunya tidak akan tercapai tanpa kontribusi dari berbagai pihak yang menjadi mitra dalam program konservasi owa Jawa ini. Pihak-pihak tersebut terdiri dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Perum Perhutani, Conservation International Indonesia, Universitas Indonesia, The Silvery Gibbon Project, PT Pertamina EP Asset 3 Subang Field dan para pejuang owa di Yayasan Owa Jawa.

PT Pertamina EP Asset 3 subang field sendiri telah menjalin kerjasama dengan Yayasan Owa Jawa sejak tahun 2013. Sebagai wujud keberlanjutan kerjasama dalam program konservasi owa Jawa, bersamaan dengan pelepasliaran ini, juga dilakukan penandatanganan lanjutan kerjasama tahun ke-empat antara Yayasan Owa Jawa dengan Pertamina EP Asset 3 Subang Field.

Para Pejuang Owa

Terimakasih kami ucapkan sebesar-besarnya untuk setiap individu yang turut andil dalam melestarikan owa Jawa. Tentu ini bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah awal baru bagi keluarga owa yang dilepasliarkan maupun bagi Yayasan Owa Jawa. Awal baru untuk melanjutkan perjuangan dalam menjaga kelestarian satwa mengagumkan yang merupakan endemik Jawa ini. Untuk terus melanjutkan penyebaran informasi kepada masyarakat sekitar agar tidak menjadikan owa Jawa sebagai binatang peliharaan serta menjaga kelestarian hutan dan alam sekitar. Untuk hidup manusia yang lebih baik di masa depan.

Menuju kebebasan

Selamat menjadi liar kembali, Mel, Pooh dan Asri..

Halaman 1 dari 12