Yayasan Owa Jawa

  • PDF
  • Cetak

Rambo : Owa Jawa yang Kehilangan Jati Dirinya

  • Minggu, 04 September 2016 00:00
  • Terakhir Diupdate ( Minggu, 11 September 2016 17:46 )
  • Oleh dns

Mari berkenalan dengan Rambo, seekor owa Jawa berjenis kelamin Jantan yang menjadi penghuni terbaru di Javan Gibbon Center (JGC). Rambo diperkirakan lahir di tahun 2012 dan telah dipelihara sejak bayi. Pemilik pertama mendapatkannya dari proses jual beli satwa ilegal. Pada Desember 2015 lalu, ia sempat mengalami pergantian pemilik. Hingga akhirnya pemilik kedua menghubungi Tim Yayasan Owa Jawa (YOJ) dengan maksud menyerahkan Rambo secara sukarela untuk kemudian menjalani proses rehabilitasi di JGC. Tanpa menunggu lama, pada 4 september 2016 pun, tim Rescue YOJ langsung meluncur ke lokasi di daerah Semplak, Bogor, menjemput Rambo di rumah sang pemilik kedua.

Saat teman-teman dari YOJ tiba di lokasi, yang menarik perhatian adalah rambut perak Rambo yang terlihat begitu bersih dan terawat. Ternyata, Rambo memang kerap mendapatkan perawatan rutin seperti dimandikan dengan shampoo. Bagi sang pemilik, Rambo terhitung sudah jinak. Ia dibiarkan berkeliaran di rumah dengan rantai di perutnya. Rambo juga sering disuapi makan, makanan kesukaannya adalah nasi dengan sayur bayam. Bahkan, sang pemilik juga menambahkan bahwa Rambo senang jika rambutnya disisir. Jika sang pemilik sudah memegang sisir, dengan patuh Rambo akan menghampiri lalu duduk membelakangi sang pemilik. Ia tahu, rambutnya akan disisir.

Rambo, menghabiskan keseharian dalam kandang

Siapakah Rambo? Pantaskah ia mendapat perlakuan seperti itu?

Ini adalah sebagian contoh kecil yang begitu miris. Jika Rambo adalah seorang anak kecil maka tidak jadi masalah ia mendapatkan perlakuan seperti di atas. Tapi pada kenyataannya, Rambo adalah seekor satwa liar yang diambil dari alam dan tidak seharusnya menjalani hidup seperti layaknya manusia. Ia berhak untuk hidup diantara pohon-pohon tinggi menjulang di hutan. Ia berhak untuk bersosialisasi dengan owa jawa lainnya dan kemudian berkembang biak.

Tidak perlu dipertanyakan lagi, seberapa besar rasa sayang sang pemilik terhadap Rambo. Tetapi rasa sayang itu begitu tidak pada tempatnya. Rambo, mungkin tidak paham siapa dirinya. Rambo adalah owa jawa yang telah kehilangan jati dirinya. Beruntung kini Rambo memiliki kesempatan untuk menjadi “liar” kembali. Untuk merasakan berayun dari pohon ke pohon, melantunkan nyanyian-nyanyian indah khas owa jawa dan bersosialisasi dengan sesama spesiesnya.

Rambo, dalam perjalanan menuju pusat rehabilitasi (JGC)

Tapi bayangkan jika ternyata di luar sana masih banyak Rambo-Rambo lainnya. Jika masih banyak dari kita yang terlibat jual-beli satwa ilegal. Tahukah anda, bahwa satwa liar itu diambil dari hutan dengan paksa? Dipisahkan dari keluarganya dengan paksa? Jika hal demikian terjadi pada manusia, tentu hal itu akan ramai di media massa.

Mengapa kita tidak bisa berlaku sama kepada mereka?

Padahal keberadaan para satwa di alam liar memegang peran penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Owa jawa contohnya. Satwa endemik pulau Jawa ini berperan dalam proses regenerasi hutan. Secara tidak langsung owa jawa membantu menyebar biji buah-buahan yang dimakan untuk kemudian tumbuh menjadi pohon baru. Bayangkan jika owa jawa lenyap dari setiap hutan. Sanggupkah kita menjaga hutan yang begitu luasnya?

Bersediakah kita untuk kehilangan salah satu spesies kera yang begitu cantik, unik dan langka ini?

Jika tidak, bukalah mata dan telinga, ingatkan teman dan keluarga untuk tidak memelihara owa jawa maupun satwa dilindungi lainnya. Biarkan mereka bebas di hutan sana, melakukan perannya, menjaga keutuhan hutan yang begitu penting bagi manusia sebagai sumber penghasil oksigen, air dan lain sebagainya.

Jika tidak sekarang, kapan lagi?

  • PDF
  • Cetak

Mel, Pooh dan Asri : Saatnya Kembali ke Alam Liar

  • Kamis, 11 Agustus 2016 00:00
  • Terakhir Diupdate ( Selasa, 06 September 2016 12:14 )
  • Oleh Administrator

10 Agustus 2016 menjadi tanggal yang sangat istimewa bagi Yayasan Owa Jawa. Pada hari itu, bertepatan dengan Hari Konservasi Alam, Yayasan Owa Jawa berkesempatan untuk melakukan pelepasliaran yang ke-empat kalinya di kawasan Gunung Puntang, Hutan Lindung Gunung Malabar, Perum Perhutani KPH Bandung Selatan, Jawa Barat. Sejak 2013, tercatat sepuluh individu owa Jawa telah dilepasliarkan di kawasan ini.

Asri, dalam pelukan sang ibu, Pooh.

Kali ini, owa Jawa yang beruntung untuk kembali merasakan kebebasan di alam liar adalah satu keluarga owa Jawa yang terdiri dari Mel (Jantan dewasa), Pooh (Betina dewasa) dan anak mereka, Asri, owa Jawa betina yang baru berusia 17 bulan. Asri adalah anak pertama mereka dan lahir di Javan Gibbon Center, pusat rehabilitasi owa Jawa yang terletak di kaki Gunung Gede Pangrango. Nama Asri sendiri adalah singkatan dari Asia-Afrika. Nama tersebut diberikan langsung oleh presiden Joko Widodo pada puncak acara Konferensi Asia Afrika di Bandung, 24 April 2015 lalu.

Setelah melalui proses rehabilitasi yang panjang dan tidak mudah, akhirnya keluarga ini dapat merasakan kembali hidup di alam liar. Peristiwa ini tentu menjadi salah satu keberhasilan yang sangat dinantikan oleh Yayasan Owa Jawa, yang tentunya tidak akan tercapai tanpa kontribusi dari berbagai pihak yang menjadi mitra dalam program konservasi owa Jawa ini. Pihak-pihak tersebut terdiri dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Perum Perhutani, Conservation International Indonesia, Universitas Indonesia, The Silvery Gibbon Project, PT Pertamina EP Asset 3 Subang Field dan para pejuang owa di Yayasan Owa Jawa.

PT Pertamina EP Asset 3 subang field sendiri telah menjalin kerjasama dengan Yayasan Owa Jawa sejak tahun 2013. Sebagai wujud keberlanjutan kerjasama dalam program konservasi owa Jawa, bersamaan dengan pelepasliaran ini, juga dilakukan penandatanganan lanjutan kerjasama tahun ke-empat antara Yayasan Owa Jawa dengan Pertamina EP Asset 3 Subang Field.

Para Pejuang Owa

Terimakasih kami ucapkan sebesar-besarnya untuk setiap individu yang turut andil dalam melestarikan owa Jawa. Tentu ini bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah awal baru bagi keluarga owa yang dilepasliarkan maupun bagi Yayasan Owa Jawa. Awal baru untuk melanjutkan perjuangan dalam menjaga kelestarian satwa mengagumkan yang merupakan endemik Jawa ini. Untuk terus melanjutkan penyebaran informasi kepada masyarakat sekitar agar tidak menjadikan owa Jawa sebagai binatang peliharaan serta menjaga kelestarian hutan dan alam sekitar. Untuk hidup manusia yang lebih baik di masa depan.

Menuju kebebasan

Selamat menjadi liar kembali, Mel, Pooh dan Asri..

  • PDF
  • Cetak

Anggota Keluarga Baru JGC : Mimis dan Bonte

  • Selasa, 03 Mei 2016 14:07
  • Terakhir Diupdate ( Selasa, 03 Mei 2016 15:11 )
  • Oleh dns

Tahun 2016 menjadi tahun yang penuh semangat bagi Yayasan Owa Jawa. Selain karena agenda yang cukup padat di tahun ini, YOJ juga mendapatkan 2 anggota keluarga baru. Mimis, seekor owa Jantan dewasa yang berasal dari daerah Banjaran, Bandung, dan Bonte, owa jantan remaja yang berasal dari Tegal. Keduanya tiba di JGC pada 20 dan 31 Januari lalu.

Mimis, di kandang karantina beberapa saat setelah tiba di JGC.

Selama 1.5 bulan keduanya harus melalui proses karantina untuk kemudian dapat melalui tahap rehabilitasi selanjutnya. Kini, Mimis berada di kandang introduksi dengan Galagah, salah satu owa betina JGC. Sedangkan Bonte yang masih remaja, sedang belajar untuk menjadi liar kembali di kandang sosialisasi.

Sebelum bergabung dengan JGC, Mimis menghabiskan hari-harinya dalam keadaan dirantai di pohon. Sementara Bonte, harus terkungkung dalam sempitnya kandang di pinggiran Jalan di kota Tegal. Beruntung, orang yang memelihara mereka akhirnya tersadar untuk menyerahkan keduanya ke pusat rehabilitasi. Javan Gibbon Center pun menerima kehadiran mereka dengan sukacita.

Mimis, sebelum dijemput tim, terikat rantai di pohon di area pemukiman warga.

Kedatangan kedua owa jantan itu menimbulkan kesan yang beragam bagi YOJ. Awalnya rasa bahagia yang mendominasi, karena penyerahan sukarela dari masyarakat ini menjadi bukti konkrit bahwa edukasi yang dilakukan selama ini mulai membuahkan hasil. Karena YOJ percaya, salah satu jalan terefektif untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian owa Jawa adalah melalui edukasi. Dimana informasi yang didapatkan oleh masyarakat dapat terus disebarkan ke semua kalangan hingga tidak ada lagi masyarakat yang berniat untuk memelihara owa Jawa sebagai binatang peliharaan. Namun tidak dapat dipungkiri kenyataan bahwa masih ada masyarakat yang memelihara owa Jawa makin menyadarkan YOJ, bahwa PR YOJ masih sangatlah banyak.

Bonte, sebelum diserahkan ke JGC, menghabiskan hari-harinya di kandang dalam keadaan dirantai.

Edukasi harus terus dilakukan, sebagai salah satu upaya untuk memberantas masalah jual-beli satwa dilindungi dari akarnya. Tentu penjual tidak akan mempertahankan komoditinya jika tidak ada pembeli, bukan? Melalui program Program Mobil Unit Konservasi Moli dan Telsi dan juga bioskop alam, YOJ pun berusaha menularkan dan menumbuhkan rasa cinta terhadap owa Jawa dan hutan kepada masyarakat. Mengedukasi tentang pentingnya peran owa Jawa terhadap kondisi hutan serta peran penting hutan untuk kehidupan manusia itu sendiri. Perlahan tapi pasti kesadaran masyarakat akan terus tumbuh dan membuahkan hasil yang manis, sehingga tidak akan ada kisah seperti Mimis dan Bonte yang lain.

Bonte yang begitu dekat dengan pemiliknya dapat menyebabkan proses rehabilitasi menjadi lebih sulit.

Mari cintai owa jawa dengan membiarkan mereka hidup tentram di habitatnya. Merantai mereka dalam sempitnya kandang tidak akan memberi manfaat apa-apa bagi kita manusia selain menunjukkan ketidakpedulian kita terhadap eksistensi mereka. Jika sudah terlanjur memelihara, maka tidak pernah ada kata terlambat untuk melakuka hal yang benar. Serahkan owa Jawa atau pun satwa dilindungi lainnya ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat atau pusat rehabilitasi satwa. Beri mereka kesempatan kedua untuk kembali menjadi diri mereka yang sesungguhnya. Mari mulai menanamkan pemahaman itu, mulai dari diri sendiri, mulai saat ini. Selamat menjadi pecinta!

Halaman 1 dari 12