Yayasan Owa Jawa

  • PDF
  • Cetak

Owa Jawa Goes to School

  • Rabu, 28 Maret 2018 10:08
  • Terakhir Diupdate ( Rabu, 28 Maret 2018 10:32 )
  • Oleh dns

Yayasan Owa Jawa memulai tahun 2018 dengan kegiatan edukasi di bulan Februari lalu. Menggunakan mobil unit konservasi Moli dan Telsi, bekerjasama dengan PT Pertamina EP Asset 3 Subang Field. Pada kesempatan itu Yayasan Owa Jawa mengunjungi beberapa sekolah yang berlokasi di Karawang dan Subang. Sekolah – sekolah yang beruntung diantaranya adalah SMAN 1 Cilamaya, SMK PGRI 1 Cilamaya, SMAN 1 Karawang, SMAN 5 Karawang, SMPN 6 Subang, SDPIT Baskara Subang, SMAN 2 Subang dan SMAN 1 Subang.

Kegiatan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan kepedulian teman-teman pelajar di Karawang dan Subang akan pentingnya hutan dan berbagai satwa liar yang hidup di dalamnya, termasuk owa jawa yang terancam punah. Mengingat baik atau tidaknya kondisi hutan akan mempengaruhi kehidupan masyarakat bahkan yang tinggal jauh dari hutan sekalipun. Karena selain berfungsi sebagai produsen oksigen, hutan juga berfungsi sebagai salah satu pemasok air bersih. Siapa pun butuh oksigen dan air bersih untuk hidup bukan? Maka tidak peduli tinggal di kota maupun di pegunungan, setiap manusia membutuhkan hutan. Dan hutan membutuhkan owa jawa.

Harapan terbesar setelah diadakannya kegiatan edukasi tersebut adalah munculnya kepedulian teman-teman pelajar akan pentingnya menjaga alam dan lingkungan. Sehingga mereka tidak akan ragu untuk ikut menyebarkan informasi kepada teman sebaya bahkan keluarganya mengenai hutan dan owa jawa, bahkan ikut aktif menjaga kelestariannya. Setiap tahun kegiatan mobil unit konservasi Moli dan Telsi dilaksanakan ke berbagai sekolah, karena Yayasan Owa Jawa percaya, pendidikan merupakan salah satu jalur penting yang harus dilalui dalam upaya konservasi owa jawa. Masyarakat yang memahami betapa pentingnya eksistensi hutan dan owa jawa akan ikut menjaga atau setidaknya dapat menolak ketika ada yang berusaha memperjualbelikan satwa terancam punah yang dilindungi undang-undang tersebut.

  • PDF
  • Cetak

Willi, Sasa dan Jatna : Sebuah Perjalanan Menuju Kebebasan

  • Selasa, 14 November 2017 12:36
  • Terakhir Diupdate ( Selasa, 14 November 2017 13:02 )
  • Oleh dns

Pada tanggal 24 Oktober 2017, bertepatan dengan hari Owa Internasional (International Gibbon Day), Yayasan Owa Jawa kembali berhasil melepasliarkan lima individu owa jawa di area Gunung Puntang, Hutan Lindung Malabar, Bandung, Jawa Barat.

Tiga individu diantaranya adalah satu keluarga owa yang terdiri dari owa jantan Willie, owa betina Sasa dan bayi mereka Jatna. Willie dan Sasa sebelumnya telah melalui masa rehabilitasi selama 5-7 tahun di Javan Gibbon Center, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Bogor. Setelah melalui masa perjodohan yang panjang, akhirnya pasangan itu berhasil melahirkan bayi owa yang diberi nama Jatna. Kini, ketiganya telah resmi menjadi penghuni salah satu area hutan di gunung Puntang, Hutan Lindung Malabar, setelah sebelumnya melalui masa habituasi selama dua bulan di Gunung Puntang.

Sasa dan Jatna, menuju kebebasan

Pelepasliaran ini merupakan pelepasliaran yang ke lima kalinya. Sebelumnya, 15 Juni 2013 telah dilepasliarkan sepasang Owa Jawa bernama Kiki dan Sadewa, pada 27 Maret 2014 dilepasliarkan satu keluarga Owa jawa, Bombom (betina), Jowo (jantan) dan anak mereka Yani (betina) dan Yudi (jantan), pada 24 April 2015 dilepasliarkan pasangan Robin-Moni dan Moli-Nancy, dan keluarga Mel-Pooh-Asri pada tanggal 10 Agustus 2016.

Pelepasliaran ini merupakan buah kerjasama yang diinisasi oleh Yayasan Owa Jawa bersama mitra Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem  (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Perum Perhutani, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Conservation International Indonesia, Silvery Gibbon Project, dan Pertamina EP asset 3 Subang Field.

Acara pelepasliaran pun berjalan dengan khidmat, dihadiri oleh para stakeholder dari instansi terkait, aparat, masyarakat setempat dan awak media cetak maupun elektronik. Pada hari itu, juga hadir Ibu Endang yang merupakan adopter Willie semasa Willie menjalani masa rehabilitasi di Javan Gibbon Center.

Willie, setelah rilis

Program adopsi owa jawa hingga kini masih tersedia di Javan Gibbon Center. Masyarakat yang ingin turut berpartisipasi dalam proses rehabilitasi owa jawa secara langsung dapat menjadi adopter bagi owa jawa yang sedang direhabilitasi dengan cara memberikan donasi untuk perawatan owa jawa. Dengan demikian masyarakat yang benar-benar peduli akan owa jawa dapat menjadi bagian upaya konservasi owa jawa secara nyata.

Selain itu yang paling penting dalam menyelamatkan owa jawa tentunya adalah dengan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keberadaan owa jawa dan hutan sebagai tempat tinggal mereka. Sehingga keinginan untuk memelihara satwa liar seperti owa jawa juga upaya perusakan hutan sebagai habitat alami mereka dapat dihindari. Dengan demikian alam pun dapat terjaga dengan baik.

 

Willie, Sasa dan Jatna di Gunung Puntang

  • PDF
  • Cetak

Ukong : Si Mungil dari Mega Mendung

  • Rabu, 01 Februari 2017 10:41
  • Terakhir Diupdate ( Rabu, 01 Februari 2017 10:55 )
  • Oleh dns

Javan Gibbon Center kembali mendapatkan anggota baru. Kali ini satu individu owa jawa bernama Ukong diserahkan secara sukarela oleh seorang warga di daerah Mega Mendung, Bogor. Tepat pada 30 Januari 2017 kemarin, tim JGC menjemput Ukong langsung ke sebuah villa tempat Ukong dipelihara. Ukong telah dipelihara sejak bayi. Pemiliknya mengaku mendapatkan Ukong dari Pasar Pramuka dan tertarik untuk memelihara karena kasihan terhadap Ukong. Diperkirakan usia Ukong kini sudah mencapai 7 tahun.

Ukong pun terbilang cukup jinak. Menurut penjaga yang bertugas memberi makan Ukong, Ukong senang jika kepalanya dielus. Sehari-harinya Ukong diberi makan buah-buahan pasar. Kondisi fisik Ukong pun nampak sehat, meski ukuran tubuhnya terbilang kecil untuk owa seusianya.

Ukong menjalani hari-hari di kandang di sebuah villa

Manusia memang diciptakan berbeda dengan hewan. Selain memiliki naluri, manusia juga diberi nurani yang dikaruniakan Tuhan YME. Rasa kasihan yang dirasakan pemilik Ukonglah yang mendorong dirinya untuk membeli dan memelihara Ukong. Tetapi nuranilah yang kemudian menyadarkan beliau untuk menyerahkan Ukong agar dapat menjalankan proses rehabilitasi di JGC. Karena sebesar apa pun rasa kasih sayang kita pada owa jawa, tidaklah adil rasanya untuk membiarkan mereka terkungkung dalam sebuah kandang. Apalagi mengingat pentingnya peran owa jawa di hutan. Maka tak ada tempat lain yang paling baik untuk owa jawa selain di hutan, bersama dengan pepohonan dan sesama owa jawa lainnya.

Apa yang sudah terjadi tentu tidak dapat diulang kembali, hanya bisa diperbaiki. Untuk itulah penyebaran informasi terus dilancarkan, agar JGC dapat bekerja sama dengan masyarakat dalam upaya konservasi owa jawa ini. Karena kerja sama antara JGC, institusi pemerintahan dan masyarakatlah yang menjadi kunci masalah jual-beli satwa liar. Masyarakat perlu tahu, bahwa owa jawa bukanlah hewan “lucu” yang bisa dipelihara. Owa jawa adalah hewan langka endemik yang keberadaannya dilindungi oleh undang-undang.

Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?

Ukong diserahkan pemiliknya secara sukarela untuk direhabilitasi

Bahkan owa jawa dengan kondisi yang terlihat normal dan sehat seperti Ukong saja masih tetap membutuhkan banyak usaha dalam merehabilitasinya. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun agar Ukong menjadi liar kembali dan siap untuk dilepas ke alam bersama pasangan atau keluarga barunya nanti. Belum lagi proses penjodohan yang membutuhkan banyak kesabaran. Karena jangan pernah lupa dengan sifat owa jawa yang begitu selektif dalam memilih pasangan karena sifat monogaminya.

Maka mari hentikan perdagangan satwa liar dengan tidak membeli atau memelihara mereka. Jika menemukan ada yang memelihara maka laporkankanlah segera pada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (BBKSDAE), Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KKLH) atau hubungi JGC secara langsung. Apalagi keberadaan spesies owa jawa di alam memang sudah mengkhawatirkan. Tidak banyak yang  tersisa di alam. Salah dua penyebab utamanya adalah perburuan liar dan perusakan hutan yang menjadi tempat tinggal owa jawa.

Jadi, jika esok lusa anda menemukan owa jawa diperjual-belikan, apa yang akan ANDA lakukan?

Halaman 1 dari 12