• PDF

Rehabilitasi dan Pelepas liaran OWA JAWA Pertama di Dunia

  • Kamis, 23 Desember 2010 09:58
  • Oleh Administrator

Gallery 3Javan Gibbon Center (JGC) adalah satu-satunya pusat rehabilitasi Owa Jawa di dunia melepas-liarkan sepasang Owa Jawa kembali ke habitat aslinya yang merupakan peristiwa bersejarah dan juga yang pertama kali dilakukan untuk Owa Jawa atau The Javan Gibbon (Hylobates moloch)

Bodogol (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango - TNGGP, Jawa Barat)-Untuk pertama kalinya satwa langka Owa Jawa dan termasuk yang paling terancam punah menurut Badan Konservasi Dunia (IUCN), kini berhasil direhabilitasi dengan pasangannya dan keduanya siap untuk dilepas-liarkan pada prosesi peresmian oleh Menteri Kehutanan MS Kaban, pada Jum’at, 16 Oktober 2009 serta akan dihadiri undangan dari berbagai kalangan, seperti perwakilan negara-negara sahabat, pemerintah daerah, LSM konservasi, peneliti, pelaku bisnis, dan pemuka masyarakat setempat, yang diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat komitmen semua pihak dalam menyelamatkan salah satu satwa kebanggaan masyarakat Indonesia itu.

GibbonSebagai salah satu primata paling terancam di dunia, upaya rehabilitasi owa jawa menjadi suatu pilihan sekaligus tantangan bagi para pegiat konservasi untuk menyelamatkan satwa ini dari kepunahan. Hal itu disebabkan populasi Owa Jawa di alam semakin menurun drastis. Selain dikarenakan oleh laju kerusakan hutan yang semakin meningkat, aktivitas perdagangan satwa untuk dijadikan hewan peliharaan juga merupakan ancaman serius bagi kelestariannya.

Echi (betina) dan Septa (jantan) adalah Owa Jawa yang diperkirakan lahir pada tahun 1999, disita dari pedagang satwa liar secara terpisah, lalu diselamatkan dan akhirnya dipertemukan di JGC pada tahun 2008. Pasangan Owa Jawa ini telah melalui proses rehabilitasi yang panjang dan juga sukses melalui proses percobaan pelepas liaran (pre-release) sesuai dengan standar panduan pelepasan satwa liar dari IUCN. Kini pasangan Owa Jawa tersebut siap untuk dilepas-liarkan ke habitat alaminya di Hutan Patiwel, TNGGP, Jawa Barat. 

Dalam sambutannya, Direktorat Jenderal Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Ir. Darori MM, menyampaikan bahwa upaya pelepasliaran owa jawa merupakan langkah strategis untuk menyelamatkan primata endemik Jawa itu dari kepunahan. ”Mengingat ancaman kepunahan owa jawa yang tinggi, melindungi setiap individu adalah sebuah langkah yang perlu dilakukan dan menjadi komitmen pemerintah untuk menjamin kelangsungan hidup satwa itu”, ujarnya.

Sementara, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Ir. Sumarto, MM, menambahkan bahwa pihaknya akan menjamin perlindungan pasangan owa tersebut dengan mengerahkan sejumlah polisi hutan yang akan berpatroli dan memantau secara ketat hutan Patiwel sebagai lokasi pelepasan untuk melindungi pasangan owa tersebut dari kemungkinan penangkapan liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Guna menjamin kesuksesan program pelepas liaran Owa Jawa ini, TNGGP juga akan merestorasi sebagian hutan Patiwel sehingga dapat menjadi habitat yang lebih sehat bagi kehidupan owa yang dilepas liarkan tersebut. ”Upaya pelepasliaran owa jawa juga harus disertai dengan upaya penegakan hukum dan pendidikan masyarakat untuk tidak memburu atau memelihara satwa itu”, Ir. Sumarto, MM menambahkan.
Ketua Yayasan Owa Jawa sekaligus Penasihat untuk Javan Gibbon Center, Dr. Noviar Andayani menerangkan keputusan pelepas-liaran sepasang owa jawa ini didasarkan pada kemajuan yang sangat pesat, dari fisik, kesehatan, sampai perilaku sosial dari pasangan itu. Proses rehabilitasi telah sukses mengembalikan perilaku mereka seperti owa liar lainnya. ”Keduanya juga dipastikan bebas dari penyakit menular seperti TBC dan hepatitis yang umum ditemukan pada satwa bekas peliharaan,” jelasnya. 

Pelepasliaran owa jawa ini adalah suatu peristiwa bersejarah bagi upaya konservasi di Indonesia.  ”Ini merupakan pelepasan pertama yang dilakukan terhadap Owa Jawa bekas peliharaan dan tentunya sekaligus menjadi peristiwa yang pertama di dunia.” kata Dr Jatna Supriatna, Vice President Conservation International-Indonesia (CI-Indonesia), yang sangat antusias dan sejak awal mendukung upaya rehabilitasi ini.