• PDF

Gunma Safari Park Jepang Turut Berperan Dalam Pembangunan TNGGP dan Penyelamatan Owa Jawa

  • Kamis, 23 Desember 2010 09:37
  • Oleh Administrator

Gallery 1Kawasan TNGGP merupakan salah satu Taman Nasional tertua di Indonesia, diumumkan pada tanggal 6 Maret 1980 sebagai Taman Nasional melalui Keputusan Menteri Pertanian dengan luasan 15.000 ha. Pada tahun 2003, kawasan TNGGP kemudian diperluas menjadi 21,975 ha melalui SK Menteri Kehutanan No. 174/Kpts-II/2003.  Kawasan ini  merupakan salah satu kawasan hutan terbaik di Pulau Jawa dan merupakan habitat alami dari beberapa spesies yang terancam punah salah satunya adalah Owa Jawa (Hylobates moloch). sehingga upaya konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya mutlak diperlukan.

Untuk mencapai tujuan pengelolaan taman nasional yang efektif, saat ini TNGGP sedang mengembangkan pengelolaan taman nasional berbasis resort yang menekankan pada pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan. Hal ini sangatlah penting mengingat bahwa resort merupakan unit terkecil dalam pengelolaan taman nasional.

Gallery 2Strategi yang dilakukan dalam mencapai program ini adalah dengan mendukung pembangunan 3 (tiga) resort model di TNGGP yaitu Resort Mandalawangi di Cibodas, Resort Selabintana di Selabintana dan Resort Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol di Bodogol, melalui peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, peningkatan sarana prasarana taman nasional dan pengembangan program konservasi keanekaragaman hayati berbasis masyarakat termasuk didalamnya adalah kegiatan adopsi pohon, pengelolaan habitat owa jawa, elang jawa dan katak merah yang merupakan spesies endemik di TNGGP, serta pengembangan mikrohidro dan pertanian organik.

Owa Jawa merupakan satwa primata endemik pulau Jawa, berstatus terancam punah (endangered species) dimana penyebarannya mencakup Jawa bagian Barat dan sebagian Jawa Tengah. Tekanan terhadap satwa ini masih terjadi , seperti masih terjadinya kerusakan habitat dan terjadinya perburuan untuk menjadikan owa jawa sebagai satwa peliharaan.

Fakta dijadikan owa jawa sebagai satwa peliharaan adalah adanya 30 individu owa jawa yang saat ini berada di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa (Javan Gibbon Center) yang berlokasi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sebagian besar dari satwa tersebut sebelumnya merupakan satwa peliharaan masyarakat, yang saat ini diupayakan untuk dikembalikan ke habitat alami yaitu hutan melalui program rehabilitasi. Merehabilitasi Owa Jawa sebagai upaya penyelamatan memerlukan proses panjang, pembiayaan dan partisipasi semua pihak dalam rangka menyelamatkan satwa ini dari kepunahan.  

Seiring dengan upaya tersebut, telah diluncurkan program adopsi owa jawa yang dilakukan oleh Menteri Kehutanan, yang diwakili oleh Dirjen RLPS (Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial) pada tanggal 7 Maret 2009 di Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Sebagai bentuk partisipasi awal dalam program adopsi owa jawa, GUNMA SAFARI PARK Jepang, pada tanggal 7 April 2009 di kantor Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Cibodas telah memberikan donasi sebesar 300,000 yen bagi upaya rehabilitasi owa jawa kepada Javan Gibbon Center yang secara langsung disampaikan oleh direktur GUNMA SAFARI PARK kepada Direktur Javan Gibbon Center. Pada kesempatan yang sama, pihak GUNMA SAFARI PARK juga telah memberikan  donasi sebesar 200,000 yen untuk mendukung peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan TNGGP, khususnya dalam mendukung pengembangan resort model melalui  Yayasan GEDEPAHALA.

Selain itu pada hari yang sama telah dilakukan penanaman pohon secara simbolis di Resort Bodogol TNGGP berupa 10 pohon rasamala oleh rombongan Gunma Safari Park, Direktur Taman Safari Indonesia, Direktur Javan Gibbon Center dan Direktur CI-Indonesia.

Langkah yang dilakukan oleh Gunma Safari Park, Jepang ini perlu ditiru bagi setiap orang atau perusahaan yang peduli terhadap kelestarian TNGGP dan owa jawa.