• PDF

OWA JAWA, Mereka Semakin Terancam !

  • Sabtu, 11 Desember 2010 16:08
  • Terakhir Diupdate Rabu, 22 Desember 2010 11:53
  • Oleh Administrator

Owa Jawa (Hylobates moloch) - Javan Silvery Gibbon, merupakan salah satu jenis primata endemik di Indonesia yang hanya tinggal di hutan-hutan pulau Jawa khususnya di Jawa bagian barat dan sebagian Jawa Tengah. Makanannya berupa buah, daun dan serangga. Satu keluarga owa jawa umumnya terdiri dari sepasang induk dan beberapa anak yang tinggal dalam teritori mereka. Nyanyian indah betina owa jawa di pagi hari masih terdengar diantara kabut hutan pegunungan di pulau Jawa. Sayangnya, nyanyian mereka akan hilang selamanya apabila tekanan terhadap kehidupan mereka di alam tidak pernah berhenti.

Dalam daftar satwa terancam (IUCN-species threatened red list), owa jawa termasuk kategori terancam punah (endangered species). Kehidupan mereka di alam semakin mengkhawatirkan karena kehilangan habitat alami hingga mencapai 96%. Beberapa hasil survei perkiraan populasi di alam, tersisa lebih kurang 4,000 individu yang berada di hutan-hutan konservasi dan terdapat populasi kecil yang terpisah dan terisolasi yang membuka peluang bagi mereka mengalami kepunahan. Ancaman kepunahan semakin tinggi dengan dengan adanya praktek perburuan dan perdagangan dimana lebih dari 100 individu owa jawa telah dijadikan sebagai satwa peliharaan (pet). Fakta inilah yang mendorong Yayasan Owa Jawa untuk melakukan tindakan nyata dalam upaya penyelamatan satwa ini dari kepunahan. Kini sebagian dari mereka yang pernah menjadi satwa peliharaan tersebut telah diselamatkan dan diupayakan untuk dapat kembali ke alam melalui program rehabilitasi di Javan Gibbon Center, yang merupakan salah satu program Yayasan Owa Jawa.

Untuk melakukan kegiatan ex-situ sebagai upaya konservasi terhadap owa jawa, perlu adanya beberapa kerjasama antar pihak yang memiliki perhatian akan kelestarian owa jawa. Program perencanaan dalam usaha konservasi owa jawa telah beberapa kali dilakukan dalam pertemuan-pertemuan para ahli primata tingkat nasional maupun international. Rangkaian berbagai pertemuan-pertemuan tersebut yang merupakan dasar atau cikal bakal terbentuknya Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa atau yang lebih dikenal sebagai Javan Gibbon Center (JGC).

Pada bulan Mei 1994 di Cisarua Bogor, berkumpul lebih dari 50 ahli primata dalam suatu lokakarya PHVA (Population and Habitat Viability Analysis) untuk owa jawa dan surili yang difasilitasi oleh  IUCN/SSC Conservation Breeding Specialist Group. Lokakarya tersebut merupakan kerjasama antara para ahli primata Indonesia, baik dari kalangan pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat, lembaga konservasi ex-situ, maupun lembaga international seperti  Fota Wildlife Park, Silvery Gibbon Project-Perth Zoo, Conservation International, European Endangered Species Program, American Zoo and Aquarium Association, and the London, Twycross, Paignton, Edinburgh, Duisburg, Minnesota and Milwaukee County Zoos  (Supriatna et al, 1994). Rekomendasi dari lokakarya tersebut antara lain perlu adanya studbook untuk owa jawa, persiapan manual penanganan owa jawa di ex-situ, pelatihan bagi lokal staf untuk kesehatan dan tehnik penanganan satwa, pengembangan populasi dalam penangkaran, dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap konservasi owa jawa dan habitatnya (Supriatna et al, 1994).

Menindaklanjuti hasil lokakarya PHVA tersebut, pada bulan Agustus tahun 1997  telah diadakan lokakarya untuk membahas khusus tentang penyelamatan dan rehabilitasi owa jawa, yang hasilnya merupakan pengalaman-pengalaman dari para peneliti mengenai populasi, penyakit owa jawa, serta pengalaman dari berbagai pihak yang melakukan konservasi ex-situ bagi keluarga owa pada umumnya. Spesifik topik dalam diskusi meliputi kriteria pemilihan lokasi, prosedur karantina dan kebijakan dokter hewan, disain kandang, nutrisi, sumber populasi, rehabilitasi dan program pendidikan dan penelitian. Para ahli dalam pertemuan tersebut mendukung diadakannya pusat penyelamatan dan rehabilitasi untuk owa jawa sebagai upaya konservasi ex-situ (Supriatna dan Manullang, 1997). Selanjutnya upaya mewujudkan program penyelamatan dan rehabilitasi owa jawa, juga diperkuat oleh para ahli primata didalam kongres IPS (International Primatological Society) ke 18 yang berlangsung pada tahun 2001 di Adelaide, Australia, yang kemudian melahirkan kerjasama antara Conservation International Indonesia dan Silvery Gibbon Project-Perth Zoo dalam program penyelamatan dan rehabilitasi owa jawa di Indonesia.