Yayasan Owa Jawa

  • PDF
  • Cetak

Keluarga Harmonis Siap Meramaikan Hutan Lindung Gunung Puntang

  • Rabu, 12 Maret 2014 14:06
  • Terakhir Diupdate ( Rabu, 12 Maret 2014 14:50 )
  • Oleh Administrator

Setelah pasangan Echi-Septa dan Sadewa-Kiki yang berturut-turut dilepasliarkan pada 16 Oktober 2009 dan 15 Juni 2013, kini giliran sebuah keluarga owa jawa harmonis yang terdiri dari 4 individu. Ini adalah kali pertama pelepasliaran sebuah keluarga owa jawa. Sang Ayah bernama Jowo, sang Ibu bernama Bombom, kemudian Yani adalah anak pertama mereka yang berumur 3 tahun 8 bulan dan Yudi yang masih berumur 9 bulan. Kedua anak mereka, Yani dan Yudi, terlahir di Javan Gibbon Center (JGC).

Keluarga Jowo dan Bombom (kiri ke kanan: Yani, Jowo, Bombom, dan Yudi)

 

Bersama menghangatkan tubuh dengan sinar matahari pagi

Yani (kanan) sedang menelisik tubuh sang ayah, Jowo (kiri)

Si kecil Yudi beraksi berjalan bipedal pada ranting pohon

Jowo dan Bombom menjadi penghuni JGC sejak 13 April 2008 yang ditranslokasi dari KONUS, Bandung. Tidak sampai 2 bulan kemudian mereka saling dikenalkan satu sama lain dan menjadi pasangan tetap sejak 1 Juni 2008. Keduanya kini diperkirakan berumur sekitar 15 tahun. Yani, anak pertama dari pasangan ini, lahir pada 21 Juli 2010 sedangkan Yudi terlahir pada 7 Juni 2013, hampir 3 tahun setelah kelahiran Yani.

Pengamatan perilaku dan aktivitas harian dari keluarga ini terus dilakukan dan ternyata mereka telah memenuhi kriteria-kriteria pelepasliaran. Oleh karenanya persiapan pelepasliaran kembali dilakukan di Gunung Puntang yang merupakan kawasan hutan lindung dibawah pengelolaan Perum Perhutani di kawasan Bandung Selatan pada bulan Desember 2013 lalu dengan membangun sebuah kandang habituasi pada ketinggian ±1700 meter dpl.

Kesiapan terhadap hewan juga terus dilakukan dengan menjaga serta meningkatkan kondisi kesehatannya hingga akhirnya hewan ditranslokasi dari fasilitas rehabilitasi JGC di Bogor menuju ke kandang habituasi di Bandung pada tanggal 26 Februari 2014 lalu. Kini keluarga Jowo dan Bombom tengah menjalani masa adaptasi menuju pelepasliaran yang direncanakan pada 27 Maret 2014 mendatang. Sapaan keluarga ini di pagi hari selalu terdengar melalui nyanyian “morning call”.

MARI BERSAMA KITA JAGA KELESTARIAN MEREKA!!

Setelah pasangan Echi-Septa dan Sadewa-Kiki yang dilepasliarkan pada 2009 dan 2013, kini giliran sebuah keluarga owa jawa harmonis yang terdiri dari 4 individu. Sang Ayah bernama Jowo, sang Ibu bernama Bombom, kemudian Yani adalah anak pertama mereka yang berumur 3 tahun 8 bulan dan Yudi yang masih berumur 9 bulan.

Jowo dan Bombom menjadi penghuni Javan Gibbon Center (JGC) sejak 13 April 2008 yang ditranslokasi dari KONUS, Bandung. Tidak sampai 2 bulan kemudian mereka saling dikenalkan satu sama lain dan menjadi pasangan tetap sejak 1 Juni 2008. Keduanya diperkirakan berumur sekitar 15 tahun. Yani, anak pertama dari pasangan ini, lahir pada 21 Juli 2010 sedangkan Yudi terlahir pada 7 Juni 2013, hampir 3 tahun setelah kelahiran Yani.

Pengamatan perilaku dan aktivitas harian dari keluarga ini terus dilakukan dan ternyata mereka telah memenuhi kriteria-kriteria pelepasliaran. Oleh karenanya persiapan pelepasliaran kembali dilakukan di Gunung Puntang yang merupakan kawasan hutan lindung dibawah pengelolaan Perum Perhutani di kawasan Bandung Selatan pada bulan Desember 2013 lalu dengan membangun sebuah kandang habituasi pada ketinggian ±1700 meter dpl.

Kesiapan terhadap hewan juga terus dilakukan dengan menjaga serta meningkatkan kondisi kesehatannya hingga akhirnya hewan ditranslokasi dari fasilitas rehabilitasi JGC di Bogor menuju ke kandang habituasi di Bandung pada tanggal 26 Februari 2014 lalu. Kini keluarga Jowo dan Bombom tengah menjalani masa adaptasi menuju pelepasliaran yang direncanakan pada 27 Maret 2014 mendatang. Sapaan keluarga ini di pagi hari selalu terdengar melalui nyanyian “morning call”.

 

  • PDF
  • Cetak

Devi, Owa yang Menderita Akibat Ulah Manusia

  • Jumat, 14 Februari 2014 15:06
  • Oleh Administrator

Lucu wajahnya membuat sebagian orang ingin memiliki salah satu hewan endemik Pulau Jawa ini, kadang tak peduli (meskipun mengetahui) bahwa hewan liar ini adalah satwa terancam punah dengan status dilindungi Undang-Undang. Devi, adalah salah satu owa jawa yang malang nasibnya. Setelah dipelihara selama 5 tahun, akhirnya owa betina remaja ini diserahkan secara sukarela pada tanggal 5 November 2013 lalu.

Pada hari-hari pertamanya di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa (Javan Gibbon Center) Devi menjalani serangkaian pemeriksaan fisik dan medis. Dari pemeriksaan tersebut ditemukanlah kondisi sebagai berikut:

  1. Kondisi tubuh sangat kurus (malnutrisi) akibat kekurangan serta ketidakseimbangan asupan gizinya.
  2. Semua gigi taringnya (4 buah, terdiri dari 2 taring atas dan 2 taring bawah) diratakan dengan gigi serinya dan bahkan gigi serinya pun ikut dikikir karena pemilik takut jika hewan ini menggigitnya.
  3. Pergelangan tangan kiri dan kanannya sebelumnya pernah mengalami patah tulang, sehingga sangat membatasi pergerakannya. Kemungkinan besar akibat rantai yang dipasang pada kedua persendian pergelangan tangannya.
  4. Kualitas tulang paha yang buruk (rapuh), sebagai dampak kekurangan asupan gizi yang berkepanjangan dan kurangnya paparan sinar matahari pagi yang dapat membantu proses pembentukan tulang terutama saat usia pertumbuhan.
  5. Menderita penyakit epilepsi sehingga seringkali tubuhnya kejang-kejang yang didahului dengan suara teriakan yang keras dan disertai kondisi mulut yang berbusa. Epilepsi bisa disebabkan oleh benturan pada kepala yang mengakibatkan kerusakan fungsi syaraf pusat.

Hasil pemeriksaan tersebut berujung pada kesimpulan bahwa Devi tak dapat diliarkan kembali dan ia harus menjalani sisa hidupnya di Javan Gibbon Center. Ini adalah suatu pelajaran yang harusnya menjadi pengingat manusia. Mereka adalah makhluk hidup yang juga berhak untuk hidup bebas. Mari bersama kita jaga keberadaan mereka sebagai kekayaan hayati alam Indonesia.

  • PDF
  • Cetak

KERJASAMA YAYASAN OWA JAWA DENGAN PT. PERTAMINA EP ASSET 3 SUBANG

  • Selasa, 10 September 2013 10:36
  • Oleh Administrator

Pada Senin,9 September 2013 telah dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara Yayasan Owa Jawa dan PT. Pertamina EP Asset 3 Subang bertempat di Hotel Lido, Bogor. Penandatanganan Kerjasama tersebut disaksikan oleh Kepala Bidang Teknis Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP) yang mewakili Kepala Balai Besar TNGGP serta disaksikan pula oleh Ketua Dewan Pengawas Yayasan Owa Jawa. Acara ini dihadiri pula oleh Kepala Bidang TNGGP Wilayah 3 Bogor serta segenap jajaran Staff PT. Pertamina EP Asset 3 Subang.

 

 

Ketua Dewan Pengurus Yayasan Owa Jawa, Ibu Noviar Andayani dan Field Manager PT. Pertamina EP Asset 3 Subang, Bapak Defrian Basya sepakat untuk menjalin kerjasama dibidang pendidikan, rehabilitasi dan reintroduksi Owa Jawa. Adapun Perjanjian Kerjasama yang berlangsung selama 6 bulan ini diharapkan dapat memberi dukungan terhadap program-program Yayasan Owa Jawa dalam menjalankan misi penyelamatan sekaligus pengembalian Owa Jawa ke habitat alaminya sehingga kelestarian salah satu satwa endemis pulau Jawa ini dapat terus terjaga.

Halaman 5 dari 11