Yayasan Owa Jawa

  • PDF
  • Cetak

Bayi owa Jawa kembali lahir di Pusat Rehabilitasi Javan Gibbon Center

  • Rabu, 25 Januari 2017 10:15
  • Terakhir Diupdate ( Rabu, 25 Januari 2017 10:27 )
  • Oleh dns

Sebuah kado istimewa kedua bagi Yayasan Owa Jawa di bulan ini. Bersamaan dengan lahirnya bayi owa di area pelepasliaran owa jawa di Gunung Puntang pada 14 Januari 2017 lalu, satu bayi owa jawa lainnya lahir di pusat rehabilitasi Javan Gibbon Center (JGC). Bayi owa jawa tersebut adalah keturunan pertama dari pasangan Willie (Jantan) dan Sasa (Betina). Keduanya telah dipasangkan sejak tahun 2012.

 

Bayi Willie dan Sasa menikmati matahari pagi

 

Setelah penantian panjang selama 5 tahun, akhirnya perjodohan Willie yang berusia 9 tahun dan Sasa yang diperkirakan berusia 11 tahun membuahkan hasil yang begitu dinanti-nantikan. Kini, keduanya tengah sibuk menjaga dan merawat bayi mereka. Willie sang ayah pun terlihat begitu perhatian dan selalu berada di dekat Sasa dan bayinya. Ikatan emosional antara Willie dan Sasa pun menjadi semakin kuat dengan kehadiran bayi mereka. Harapannya, akan tiba waktunya mereka merasakan kebebasan yang sesungguhnya di alam liar, rumah dimana mereka seharusnya tinggal.

 

Willie dan Sasa merawat bayi mereka

 

Tidak mudah untuk menjodohkan owa jawa; terlebih owa jawa dikenal sebagai salah satu spesies yang monogami. Karena sifat dasar itulah owa jawa cenderung selektif dalam memilih pasangan. Pemilihan pasangan yang tidak sesuai dapat berakibat pasangan owa tidak dapat berkembang biak. Padahal keturunan merekalah yang akan menjaga keberlangsungan populasi spesies owa jawa di alam.

Mengapa penting sekali bagi owa jawa hasil rehabilitasi untuk menghasilkan keturunan?

Owa jawa yang telah diambil dari hutan kebanyakan telah kehilangan sifat “liar”nya. Untuk itu upaya rehabilitasi dilakukan, yaitu mengenalkan kembali gaya hidup owa yang sesungguhnya di alam liar. Meski demikian, owa jawa hasil rehabilitasi tidak akan 100% sama dengan owa liar yang sesungguhnya namun setidaknya mendekati perilaku owa liar. Harapan besar tertumpu pada keturunan mereka yang akan hidup bebas di alam, tanpa campur tangan manusia.

 

Willie, sang ayah, ikut merawat bayinya

 

Lahirnya bayi owa di JGC ini tentu merupakan berita bahagia. Tetapi alih-alih lahir di balik kawat kandang rehabilitasi, bukankah jauh lebih baik jika owa jawa dapat lahir di alam liar tempat tinggal mereka yang sesungguhnya? Jadi janganlah kita lupa dengan ancaman sesungguhnya terhadap keberlangsungan spesies endemic pulau Jawa ini.

Perburuan liar dan jual-beli satwa ilegal masih menjadi musuh besar spesies ini. Bayangkan saja, owa jawa hanya dapat menghasilkan keturunan setiap 3-3,5 tahun sekali. Sementara perburuan liar terus terjadi setiap tahun. Karena setiap tahun ada saja owa jawa yang harus direhabilitasi, dengan kemungkinan masih banyak masyarakat yang memeliharanya. Jika hal itu terus terjadi, maka sebanyak apa pun owa yang direhabilitasi, sebanyak apa pun bayi owa yang lahir, populasi owa jawa di alam akan terus menurun dan kita tidak akan mampu mengejar ketinggalan itu. Edukasi pun harus terus dilakukan. Kenyataan bahwa owa jawa adalah satwa dilindungi yang tidak boleh dipelihara dan diperjual-belikan harus disebarluaskan.

Jadi, bagaimana menurut ANDA?Masih ingin memelihara owa jawa?

  • PDF
  • Cetak

Kado Awal Tahun : Bayi Owa Jawa Pertama di Gunung Puntang

  • Selasa, 17 Januari 2017 10:18
  • Terakhir Diupdate ( Selasa, 17 Januari 2017 10:38 )
  • Oleh Administrator

Sebuah kado istimewa baru saja tiba bagi seluruh keluarga besar Yayasan Owa Jawa di bulan pembuka 2017 ini. Untuk pertama kalinya, satu individu bayi owa dari pasangan owa hasil rehabilitasi berhasil lahir di alam liar. Tepatnya pada 14 Januari lalu, pada pukul 08.55 WIB. Tim monitoring Yayasan Owa Jawa menyaksikan langsung proses kelahiran bayi owa saat sedang melakukan kegiatan monitoring harian rutin. Bayi tersebut adalah keturunan dari Mel dan Pooh, pasangan owa Jawa hasil rehabilitasi di Javan Gibbon Center (JGC) yang berhasil dilepasliarkan tahun lalu. Sebelumnya, Mel dan Pooh telah memiliki keturunan satu individu owa Jawa bernama Asri, yang diberi nama langsung oleh Presiden Jokowi, pada saat KTT Asia Afrika berlangsung tahun 2015. Asri berjenis kelamin betina dan lahir di JGC dua tahun yang lalu.

Setelah melewati proses rehabilitasi yang panjang di Javan Gibbon Center (JGC), didukung dengan sejumlah data mengenai kondisi fisik dan perilaku yang sesuai harapan, Mel, Pooh dan Asri akhirnya dilepasliarkan secara resmi pada 10 Agustus 2016 lalu, setelah melalui masa habituasi selama empat bulan di Gunung Puntang. Peristiwa tersebut merupakan kali keempat Yayasan Owa Jawa melakukan pelepasliaran di Gunung Puntang. Dari beberapa pasangan owa Jawa yang dilepasliarkan, kelahiran bayi kedua pasangan Mel dan Pooh ini merupakan proses kelahiran pertama owa Jawa yang berhasil teramati oleh tim monitoring di kawasan pelepasliaran. Hal tersebut membuktikan bahwa proses reintroduksi owa Jawa terhadap alam liar pun akhirnya telah sukses secara sempurna.

 

Pooh, sesaat setelah melahirkan bayinya

Tidaklah mudah untuk menyelamatkan spesies yang keberadaannya mulai terancam di alam. Selain proses rehabilitasi yang panjang dan membutuhkan waktu hingga tahunan, pemilihan habitat yang sesuai untuk proses reintroduksi pun tidak kalah penting. Sejumlah analisa mulai dari keanekaragaman hayati, ketersediaan pakan dan identifikasi predator, hingga sosial masyarakat pun perlu dilakukan untuk memastikan satwa yang hendak menempatinya dapat bertahan hidup. Tugas para pejuang owa Jawa pun tidak cukup hingga owa Jawa dilepasliarkan. Melainkan terus menerus hingga benar-benar diyakini bahwa owa Jawa dapat hidup dan bertahan di habitat aslinya. Hal tersebut tentunya harus didukung dengan data-data yang mumpuni. Untuk itulah tim monitoring dan patroli pun secara intensif terus dikerahkan.

Proses monitoring dan patrol rutin dilakukan untuk melihat kondisi owa Jawa yang dilepasliarkan dan juga kondisi habitat atau alam yang menjadi tempat baru mereka untuk menghabiskan sisa hidupnya. Keselarasan antara dua hal tersebutlah yang dapat menjadi tolak ukur keberhasilan upaya penyelamatan owa Jawa. Karena itulah terdapat tiga parameter utama suksesnya proses reintroduksi owa Jawa ke habitat aslinya, yaitu : 1) owa Jawa dapat mencari dan mengkonsumsi pakan alami, 2) owa Jawa tidak terpisah dari pasangannya, dan 3) pasangan owa Jawa mampu menghasilkan keturunan. Point ketiga itulah yang menjadi puncak keberhasilan dari proses reintroduksi owa Jawa. Hal tersebut dapat diketahui bahwa secara naluriah owa yang dilepasliarkan sudah sangat nyaman dengan kehidupan barunya di alam liar. Owa Jawa pun siap untuk menghasilkan keturunan untuk kemudian secara perlahan tapi pasti dapat meningkatkan populasi mereka di alam secara keseluruhan.

 

Pooh, ibu yang begitu begitu menyayangi anaknya

 

Keberhasilan ini tentunya merupakan buah dari kerja-keras seluruhp ejuang konservasi owa Jawa yang berada di bawah naungan Yayasan Owa Jawa, dan pihak-pihak lain yang turut mendukung proses penyelamatan owa Jawa karena kepeduliannya dengan keberlangsungan spesies ini di alam. Untuk itu tahun 2017 pun menjadi tahun yang penuh harapan dan tantangan bagi Yayasan Owa Jawa. Lahirnya bayi owa Jawa pertama di Gunung Puntang memberikan harapan bahwa upaya yang dilakukan Yayasan Owa Jawa dapat benar-benar memberikan hasil yang diharapkan. Meski disertai dengan tantangan-tantangan baru untuk terus berusaha menyelamatkan owa Jawa yang tersisa.

Begitu banyak agenda yang menanti di tahun 2017. Masih banyak owa Jawa yang harus direhabilitasi dan dilepasliarkan, makin banyak habitat owa Jawa yang perlu direstorasi, dan tentunya masih banyak masyarakat yang perlu ditingkatkan kesadararannya. Keterkaitan antara owa Jawa, hutan dan manusia, saling membutuhkan dan tidak dapat dipisahkan. Karena edukasi yang berkelanjutan dapat memberikan pemahaman akan pentingnya keberadaan spesies mengagumkan yang merupakan hewan endemik pulau Jawa ini. Yayasan Owa Jawa berbagi mimpi dimana owa Jawa akan terus ada dan memainkan perannya dalam ekosistem hingga beratus-ratus tahun kemudian. Bergelantungan diantara ranting-ranting pohon yang asri dan rindang, melagukan nyanyian indah mereka. Yayasan Owa Jawa siap untuk terus bekerja mewujudkan mimpi besar itu. Bagaimana dengan ANDA?

  • PDF
  • Cetak

Rambo : Owa Jawa yang Kehilangan Jati Dirinya

  • Minggu, 04 September 2016 00:00
  • Terakhir Diupdate ( Minggu, 11 September 2016 17:46 )
  • Oleh dns

Mari berkenalan dengan Rambo, seekor owa Jawa berjenis kelamin Jantan yang menjadi penghuni terbaru di Javan Gibbon Center (JGC). Rambo diperkirakan lahir di tahun 2012 dan telah dipelihara sejak bayi. Pemilik pertama mendapatkannya dari proses jual beli satwa ilegal. Pada Desember 2015 lalu, ia sempat mengalami pergantian pemilik. Hingga akhirnya pemilik kedua menghubungi Tim Yayasan Owa Jawa (YOJ) dengan maksud menyerahkan Rambo secara sukarela untuk kemudian menjalani proses rehabilitasi di JGC. Tanpa menunggu lama, pada 4 september 2016 pun, tim Rescue YOJ langsung meluncur ke lokasi di daerah Semplak, Bogor, menjemput Rambo di rumah sang pemilik kedua.

Saat teman-teman dari YOJ tiba di lokasi, yang menarik perhatian adalah rambut perak Rambo yang terlihat begitu bersih dan terawat. Ternyata, Rambo memang kerap mendapatkan perawatan rutin seperti dimandikan dengan shampoo. Bagi sang pemilik, Rambo terhitung sudah jinak. Ia dibiarkan berkeliaran di rumah dengan rantai di perutnya. Rambo juga sering disuapi makan, makanan kesukaannya adalah nasi dengan sayur bayam. Bahkan, sang pemilik juga menambahkan bahwa Rambo senang jika rambutnya disisir. Jika sang pemilik sudah memegang sisir, dengan patuh Rambo akan menghampiri lalu duduk membelakangi sang pemilik. Ia tahu, rambutnya akan disisir.

Rambo, menghabiskan keseharian dalam kandang

Siapakah Rambo? Pantaskah ia mendapat perlakuan seperti itu?

Ini adalah sebagian contoh kecil yang begitu miris. Jika Rambo adalah seorang anak kecil maka tidak jadi masalah ia mendapatkan perlakuan seperti di atas. Tapi pada kenyataannya, Rambo adalah seekor satwa liar yang diambil dari alam dan tidak seharusnya menjalani hidup seperti layaknya manusia. Ia berhak untuk hidup diantara pohon-pohon tinggi menjulang di hutan. Ia berhak untuk bersosialisasi dengan owa jawa lainnya dan kemudian berkembang biak.

Tidak perlu dipertanyakan lagi, seberapa besar rasa sayang sang pemilik terhadap Rambo. Tetapi rasa sayang itu begitu tidak pada tempatnya. Rambo, mungkin tidak paham siapa dirinya. Rambo adalah owa jawa yang telah kehilangan jati dirinya. Beruntung kini Rambo memiliki kesempatan untuk menjadi liar kembali. Untuk merasakan berayun dari pohon ke pohon, melantunkan nyanyian-nyanyian indah khas owa jawa dan bersosialisasi dengan sesama spesiesnya.

Rambo, dalam perjalanan menuju pusat rehabilitasi (JGC)

Tapi bayangkan jika ternyata di luar sana masih banyak Rambo-Rambo lainnya. Jika masih banyak dari kita yang terlibat jual-beli satwa ilegal. Tahukah anda, bahwa satwa liar itu diambil dari hutan dengan paksa? Dipisahkan dari keluarganya dengan paksa? Jika hal demikian terjadi pada manusia, tentu hal itu akan ramai di media massa.

Mengapa kita tidak bisa berlaku sama kepada mereka?

Padahal keberadaan para satwa di alam liar memegang peran penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Owa jawa contohnya. Satwa endemik pulau Jawa ini berperan dalam proses regenerasi hutan. Secara tidak langsung owa jawa membantu menyebar biji buah-buahan yang dimakan untuk kemudian tumbuh menjadi pohon baru. Bayangkan jika owa jawa lenyap dari setiap hutan. Sanggupkah kita menjaga hutan yang begitu luasnya?

Bersediakah kita untuk kehilangan salah satu spesies kera yang begitu cantik, unik dan langka ini?

Jika tidak, bukalah mata dan telinga, ingatkan teman dan keluarga untuk tidak memelihara owa jawa maupun satwa dilindungi lainnya. Biarkan mereka bebas di hutan sana, melakukan perannya, menjaga keutuhan hutan yang begitu penting bagi manusia sebagai sumber penghasil oksigen, air dan lain sebagainya.

Jika tidak sekarang, kapan lagi?

Halaman 2 dari 12