Yayasan Owa Jawa

  • PDF
  • Cetak

Billy Putri : Sebuah Potret Terputusnya Rantai Informasi antara Owa Liar dan Owa Rehabilitan

  • Minggu, 07 Oktober 2018 18:29
  • Terakhir Diupdate ( Minggu, 07 Oktober 2018 19:57 )
  • Oleh dns

Billy Putri adalah salah satu bayi owa Jawa yang lahir di Javan Gibbon Center (JGC). Ia lahir pada tanggal 28 April 2018 lalu melalui prosedur sesar. Bayi owa jawa berjenis kelamin betina ini merupakan keturunan dari pasangan owa jawa yang telah bertahun-tahun menjalani proses rehabilitasi di Javan Gibbon Center (JGC), Boby dan Jolly.

Tak  dapat dipungkiri, kehadiran Billy Putri di JGC menjadi salah satu moment keberhasilan yang membahagiakan bagi seluruh keluarga besar Yayasan Owa Jawa (YOJ). Karena kelahiran bayi owa dari para owa rehabilitan merupakan salah satu ciri berhasilnya proses perjodohan. Dimana hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama menuju pelepasliaran, setelah syarat-syarat lainnya seperti kondisi fisik, perilaku maupun psikis yang terpenuhi.

Meski demikian, kelahiran Billy Putri juga menyisakan kesedihan yang cukup dalam. Jolly sang induk mengalami kesulitan melahirkan hingga harus menjalani prosedur sesar. Prosedur sesar berjalan dengan lancar dan sang induk maupun bayinya dapat terselamatkan. Sayangnya, setelah proses operasi, Jolly tidak dapat mengenali bayinya dan menolak untuk menyusui bayinya layaknya seorang induk pada umumnya.

Pengambilan keputusan dalam upaya menyelamatkan induk owa jawa yang akan melahirkan memang bukanlah hal yang mudah. Beberapa resiko mungkin dapat terjadi. Salah satunya adalah seperti yang dialami Jolly yang tidak dapat mengenali Billy Putri sebagai bayinya. Prosedur sesar merupakan pilihan paling akhir yang diambil hanya jika induk owa jawa benar-benar mengalami kesulitan menjalani proses melahirkan. Yaitu ketika induk owa jawa dan bayi berada dalam kondisi terancam kehilangan nyawa, maka prosedur sesar pun dilakukan dalam upaya menyelamatkan nyawa keduanya. Beruntung, upaya pertolongan dapat dilakukan segera dan Jolly beserta bayinya dapat terselamatkan.

Meski kini Billy Putri tetap dapat tumbuh besar dan sehat dibawah pengawasan para keeper, beberapa pertanyaan penting pun muncul ke permukaan.

Faktor apakah yang menjadi penyebab Jolly atau pun beberapa owa rehabilitan lainnya mengalami kesulitan dalam proses melahirkan? Lalu mengapa Jolly tak dapat mengenali bayinya?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, mari kita telusuri perbedaan yang dimiliki oleh Jolly sebagai owa rehabilitan dan owa liar di alam. Owa liar menjalani kehidupan dalam satu keluarga yang terdiri dari induk betina dan jantan dengan dua atau tiga anak. Rata-rata owa betina dewasa memiliki keturunan setiap tiga hingga empat tahun sekali. Dan ketika anaknya telah menginjak usia remaja hingga dewasa, sang anak akan mulai memisahkan diri untuk mencari pasangan, membentuk keluarga owa baru dan memulai siklus yang sama. Berbekal pengetahuan dan pengalaman yang didapatkannya sejak bayi saat hidup bersama induk jantan dan betinanya. Proses transfer pengetahuan dari induk kepada keturunannya tersebut meliputi berbagai macam hal dari mulai bagaimana mencari makan dan bertahan hidup hingga bagaimana cara berkembang biak dan membesarkan keturunannya. Semua itu terjadi secara turun-temurun.

Maka ketika individu owa jawa diambil dari keluarganya dan dijadikan peliharaan, proses transfer informasi itu pun menjadi terputus. Owa jawa yang dipisahkan dari keluarganya tidak mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang seharusnya didapatkan dari kedua induknya untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Meski pada beberapa kasus owa rehabilitan secara naluriah tetap dapat melalui dua proses di atas, namun kemampuan owa liar dan owa rehabilitan kemungkinan besar tidak berada pada level yang sama.

Billy Putri learns how to climb

Itulah mengapa satwa liar tak seharusnya dipelihara. Selain karena bahaya akan kemampuannya dalam penularan penyakit dengan manusia, hal tersebut juga menjadi faktor utama terancamnya eksistensi beberapa spesies satwa liar di alam, termasuk owa jawa.

Sementara jawaban akan pertanyaan kedua kuat hubungannya dengan insting. Naluri atau insting adalah sebuah keistimewaan yang dimiliki baik manusia maupun satwa. Bedanya selain insting, manusia dapat bersandar pada akalnya, sementara satwa hanya dapat bersandar pada instingnya. Contohnya, insting laparlah yang memicu satwa liar untuk mencari makan, bersembunyi ketika ada predator, dan sebagainya.

Naluri Jolly sebagai induk tidak muncul besar kemungkinan karena ia “tidak merasa” melahirkan bayinya. Apalagi kita tahu, betapa pentingnya kontak fisik antara induk dan bayi tepat setelah proses kelahiran untuk membangun ikatan emosional antara keduanya. Kini, Billy Putri harus bertahan dengan susu formula bukan dengan ASI ibunya. Ia juga hanya bisa memeluk guling yang disediakan oleh keeper, bukan memeluk ibunya.

Maka dapat disimpulkan, bukanlah operasi sesar yang menyebabkan itu semua. Faktor utama penyebab Billy Putri kini harus tumbuh tanpa ibunya adalah keputusan manusia untuk memelihara Jolly dan memutus proses transfer informasi yang terjadi turun temurun; bahkan sejak manusia dan owa jawa itu diciptakan.

Jadi, bagaimana menurutmu? Masih ingin memelihara owa jawa?

  • PDF
  • Cetak

Owa Jawa Goes to School

  • Rabu, 28 Maret 2018 10:08
  • Terakhir Diupdate ( Rabu, 28 Maret 2018 10:32 )
  • Oleh dns

Yayasan Owa Jawa memulai tahun 2018 dengan kegiatan edukasi di bulan Februari lalu. Menggunakan mobil unit konservasi Moli dan Telsi, bekerjasama dengan PT Pertamina EP Asset 3 Subang Field. Pada kesempatan itu Yayasan Owa Jawa mengunjungi beberapa sekolah yang berlokasi di Karawang dan Subang. Sekolah – sekolah yang beruntung diantaranya adalah SMAN 1 Cilamaya, SMK PGRI 1 Cilamaya, SMAN 1 Karawang, SMAN 5 Karawang, SMPN 6 Subang, SDPIT Baskara Subang, SMAN 2 Subang dan SMAN 1 Subang.

Kegiatan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan kepedulian teman-teman pelajar di Karawang dan Subang akan pentingnya hutan dan berbagai satwa liar yang hidup di dalamnya, termasuk owa jawa yang terancam punah. Mengingat baik atau tidaknya kondisi hutan akan mempengaruhi kehidupan masyarakat bahkan yang tinggal jauh dari hutan sekalipun. Karena selain berfungsi sebagai produsen oksigen, hutan juga berfungsi sebagai salah satu pemasok air bersih. Siapa pun butuh oksigen dan air bersih untuk hidup bukan? Maka tidak peduli tinggal di kota maupun di pegunungan, setiap manusia membutuhkan hutan. Dan hutan membutuhkan owa jawa.

Harapan terbesar setelah diadakannya kegiatan edukasi tersebut adalah munculnya kepedulian teman-teman pelajar akan pentingnya menjaga alam dan lingkungan. Sehingga mereka tidak akan ragu untuk ikut menyebarkan informasi kepada teman sebaya bahkan keluarganya mengenai hutan dan owa jawa, bahkan ikut aktif menjaga kelestariannya. Setiap tahun kegiatan mobil unit konservasi Moli dan Telsi dilaksanakan ke berbagai sekolah, karena Yayasan Owa Jawa percaya, pendidikan merupakan salah satu jalur penting yang harus dilalui dalam upaya konservasi owa jawa. Masyarakat yang memahami betapa pentingnya eksistensi hutan dan owa jawa akan ikut menjaga atau setidaknya dapat menolak ketika ada yang berusaha memperjualbelikan satwa terancam punah yang dilindungi undang-undang tersebut.

  • PDF
  • Cetak

Willi, Sasa dan Jatna : Sebuah Perjalanan Menuju Kebebasan

  • Selasa, 14 November 2017 12:36
  • Terakhir Diupdate ( Selasa, 14 November 2017 13:02 )
  • Oleh dns

Pada tanggal 24 Oktober 2017, bertepatan dengan hari Owa Internasional (International Gibbon Day), Yayasan Owa Jawa kembali berhasil melepasliarkan lima individu owa jawa di area Gunung Puntang, Hutan Lindung Malabar, Bandung, Jawa Barat.

Tiga individu diantaranya adalah satu keluarga owa yang terdiri dari owa jantan Willie, owa betina Sasa dan bayi mereka Jatna. Willie dan Sasa sebelumnya telah melalui masa rehabilitasi selama 5-7 tahun di Javan Gibbon Center, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Bogor. Setelah melalui masa perjodohan yang panjang, akhirnya pasangan itu berhasil melahirkan bayi owa yang diberi nama Jatna. Kini, ketiganya telah resmi menjadi penghuni salah satu area hutan di gunung Puntang, Hutan Lindung Malabar, setelah sebelumnya melalui masa habituasi selama dua bulan di Gunung Puntang.

Sasa dan Jatna, menuju kebebasan

Pelepasliaran ini merupakan pelepasliaran yang ke lima kalinya. Sebelumnya, 15 Juni 2013 telah dilepasliarkan sepasang Owa Jawa bernama Kiki dan Sadewa, pada 27 Maret 2014 dilepasliarkan satu keluarga Owa jawa, Bombom (betina), Jowo (jantan) dan anak mereka Yani (betina) dan Yudi (jantan), pada 24 April 2015 dilepasliarkan pasangan Robin-Moni dan Moli-Nancy, dan keluarga Mel-Pooh-Asri pada tanggal 10 Agustus 2016.

Pelepasliaran ini merupakan buah kerjasama yang diinisasi oleh Yayasan Owa Jawa bersama mitra Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem  (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Perum Perhutani, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, Conservation International Indonesia, Silvery Gibbon Project, dan Pertamina EP asset 3 Subang Field.

Acara pelepasliaran pun berjalan dengan khidmat, dihadiri oleh para stakeholder dari instansi terkait, aparat, masyarakat setempat dan awak media cetak maupun elektronik. Pada hari itu, juga hadir Ibu Endang yang merupakan adopter Willie semasa Willie menjalani masa rehabilitasi di Javan Gibbon Center.

Willie, setelah rilis

Program adopsi owa jawa hingga kini masih tersedia di Javan Gibbon Center. Masyarakat yang ingin turut berpartisipasi dalam proses rehabilitasi owa jawa secara langsung dapat menjadi adopter bagi owa jawa yang sedang direhabilitasi dengan cara memberikan donasi untuk perawatan owa jawa. Dengan demikian masyarakat yang benar-benar peduli akan owa jawa dapat menjadi bagian upaya konservasi owa jawa secara nyata.

Selain itu yang paling penting dalam menyelamatkan owa jawa tentunya adalah dengan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keberadaan owa jawa dan hutan sebagai tempat tinggal mereka. Sehingga keinginan untuk memelihara satwa liar seperti owa jawa juga upaya perusakan hutan sebagai habitat alami mereka dapat dihindari. Dengan demikian alam pun dapat terjaga dengan baik.

 

Willie, Sasa dan Jatna di Gunung Puntang

Halaman 1 dari 12