Yayasan Owa Jawa

  • PDF
  • Cetak

DUA PASANG OWA JAWA DARI JGC-TNGGP DILEPASLIARKAN OLEH PRESIDEN JOKOWI

  • Selasa, 28 April 2015 09:11
  • Terakhir Diupdate ( Selasa, 28 April 2015 10:34 )
  • Oleh Administrator

Bertepatan dengan perayaan Ulang Tahun Emas KTT-Asia Afrika di Bandung, pada tanggal 24 April 2015 Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya berkesempatan melakukan pelepasliaran owa jawa disaksikan beberapa delegasi peserta KTT di Bandung Jawa Barat. Momen pelepasliaran owa jawa menggambarkan semangat gotong royong negara-negara Asia Afrika untuk menjalankan pembangunan berkelanjutan, peningkatan kualitas hidup masyarakat, dan penghargaan terhadap keanekaragaman hayati sebagai penyokong kehidupan. Keberhasilan Indonesia melakukan konservasi owa jawa di pulau yang terpadat penduduknya di dunia, merupakan komitmen kuat Indonesia dalam menjalankan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Pelepasliaran owa jawa dilakukan melalui liputan langsung (live streaming) dengan teknologi satelit yang dilakukan oleh Presiden Jokowi dari Bandung yang ditandai penekanan tombol tanda dibukanya pintu kandang owa jawa yang ada di gunung puntang.  Sehari sebelumnya, tanggal 23 April 2015, Menteri Lingkungan Hidup dan kehutanan, Siti Nurbaya berkesempatan berkunjung ke lokasi pelepasliaran untuk melihat persiapan rencana pelepasliaran

Pelepasliaran owa jawa kali ini dilakukan untuk dua pasang (empat individu) owa jawa yaitu pasangan Robin-Moni dan pasangan Moli-Nancy. Kedua pasang owa jawa tersebut telah menjalani proses rehabilitasi selama 7-11 tahun di Javan Gibbon Center (JGC), Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.  Sebelum dilepasliarkan, owa jawa telah menjalani proses habituasi lebih kurang 2,5 bulan di lokasi pelepasliaran Gunung Puntang.  Lebih kurang satu tahun yang lalu, satu keluarga owa jawa yang berjumlah empat individu juga telah dilepasliarkan di lokasi hutan yang sama. Kondisi mereka hingga saat ini menunjukkan kemampuan beradaptasinya semakin baik. Hasil positif  tersebut  mencerminkan keberhasilan proses panjang program rehabilitasi di Javan Gibbon Center, yang merupakan program kerjasama berbagai lembaga, antara lain Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango,  Yayasan Owa Jawa, Conservation International Indonesia, Universitas Indonesia dan Silvery Gibbon Project.

Berkurangnya hutan tropis di Jawa, menyebabkan keberadaan owa jawa semakin terancam. Owa jawa masih menjadi target perburuan untuk dijadikan satwa peliharaan. Mengembalikan owa jawa ke hutan dalam keadaan sehat dan bebas penyakit menjadi salah satu upaya untuk memastikan keberlanjutan spesies ini.  Ditjen PHKA, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan dukungan para pihak terus melakukan berbagai upaya demi suksesnya upaya pelestarian owa jawa ke depan. Berbagai kegiatan ilegal seperti perburuan harus segera dihentikan dan satwa-satwa yang telanjur dipelihara oleh masyarakat harus dapat dilepasliarkan kembali melalui proses rehabilitasi. Kepada masyarakat yang memiliki, memelihara atau memperdagangkan satwa primata  tersebut dapat menyerahkan secara sukarela kepada pemerintah melalui Balai KSDA setempat atau langsung kepada pusat rehabilitasi. Memiliki, memelihara maupun memperdagangkan satwa dilindungi tanpa ijin yang berwenang merupakan perbuatan melanggar hukum UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

 

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya menyatakan bahwa dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, owa jawa termasuk jenis satwa yang dilindungi dan merupakan salah satu dari 25 (dua puluh lima) satwa prioritas yang menjadi salah satu target sasaran strategis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada RPJM 2015-2019. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan diharapkan mampu melakukan peningkatan populasi spesies terancam punah sebesar 10% di site monitoring yang ditetapkan sesuai kondisi habitatnya. Para ahli dan peneliti memperkirakan jumlah owa jawa yang hidup saat ini tidak lebih dari 5.000 individu. Kami harap kegiatan pelepasliaran ini dapat membantu meningkatkan populasi owa jawa di alam, dan sekaligus meningkatkan kesadaran kita semua untuk menjaga kelestarian owa jawa”, katanya.

Direktur Utama Perum Perhutani, Mustoha Iskandar mengatakan bahwa konservasi Owa Jawa ini merupakan upaya untuk mempertahankan kualitas kawasan hutan lindung Perum Perhutani karena owa jawa dapat dijadikan indikator kondisi hutan yang sehat dan terjaga baik. ”Sebelumnya, 15 Juni 2013 telah dilepasliarkan sepasang Owa Jawa bernama Kiki dan Sadewa, pada 27 Maret 2014 dilepasliarkan satu keluarga Owa jawa, Bombom (betina), Jowo (jantan) dan anak mereka Yani (betina) dan Yudi (jantan) dan ketiga kalinya hari ini 24 April 2015 ini dilepasliarkan lagi pasangan Robin-Moni dan Moli-Nancy di tempat yang sama. Beberapa kawasan hutan lindung Perum Perhutani juga merupakan habitat owa jawa,  oleh karenanya Perhutani berkomitmen untuk melestarikan owa jawa sekaligus mempertahankan habitatnya. Keterlibatan Perhutani tidak saja penting sebagai pemangku dan pengelola kawasan hutan Gunung Puntang, tetapi juga strategis untuk mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan. Selain itu keberhasilan upaya konservasi owa jawa sangat berkaitan dengan dukungan dan peran serta masyarakat setempat” demikian Mustoha menegaskan.

Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Owa Jawa, Noviar Andayani menyatakan bahwa pihaknya sudah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk program penyelamatan dan rehabilitasi owa jawa.  JGC juga baru saja menyambut kelahiran bayi owa jawa betina pada tanggal 9 Februari 2015 dari pasangan Mel (jantan) dan Pooh (betina). Hingga saat ini JGC telah melepasliarkan 10 individu owa jawa ke habitat alaminya. Upaya mengembalikan  owa jawa ke habitatnya  bukanlah  perkara mudah, oleh sebab itu kemitraan dan dukungan berbagai pihak sangat diperlukan untuk menyelamatkan primata ini dari kepunahan”.

Baca juga beritanya di : http://www.aacc2015.id/?lang=en&p=detrelease&id=38

  • PDF
  • Cetak

Maral, si mungil pelipur hati

  • Rabu, 25 Februari 2015 15:27
  • Terakhir Diupdate ( Rabu, 25 Februari 2015 15:59 )
  • Oleh Administrator

Kehadiran Maral pada 9 Februari 2015 lalu membuat kehidupan pasangan Mel  dan Pooh semakin sempurna. Kini mereka tak hanya berdua melainkan sudah berkeluarga. Mel, owa jawa berjenis kelamin jantan yang diperkirakan lahir pada tahun 1997 adalah owa hasil sitaan dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi  sedangkan Pooh, owa betina yang diperkirakan lahir pada tahun 2000 adalah serahan sukarela dari masyarakat Desa Jampang Kulon.  Keduanya diserahkan oleh Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga kepada Javan Gibbon Center untuk menjalani proses rehabilitasi pada tanggal 28 Januari 2008.

Upaya penjodohan terhadap Mel dan Pooh tidak berlangsung lama. Setelah menjalani masa karantina mulai hari yang sama dengan kedatangan mereka, pada 10 Maret 2008 mereka sudah menempati sebuah kandang pasangan. Dari tahun ke tahun, ikatan pasangan ini semakin meningkat dan sejak awal tahun 2014 mereka mulai menunjukkan kemesraan yang diperlihatkan dengan peningkatan perilaku sosial diantara keduanya. Kegiatan menelisik pasangannya (allogrooming) merupakan salah satu perilaku sosial mereka yang sering teramati.

Kecurigaan terhadap kehamilan Pooh bermula dari pengamatan harian siklus menstruasinya pada bulan November 2014 lalu. Pooh adalah salah satu betina dewasa yang memiliki siklus menstruasi yang teratur, namun di bulan November dan Desember 2014 siklus tersebut tidak teramati. Kecurigaan terhadap kehamilan semakin meningkat dengan makin besarnya perut  Pooh hingga akhirnya pada tanggal 21 Desember 2014 dilakukan pemeriksaan USG untuk memastikan dugaan tersebut.

 

Gambar 1. Hasil USG 21 Desember 2014: jantung janin (atas) dankepala janin (bawah)

Senang sekali rasanya ketika monitor alat USG memperlihatkan janin Pooh yang telah berukuran cukup besar dan dalam kondisi yang sehat. Jantung si janin pun nampak berdenyut-denyut.  Dari hasil USG saat itu, diperkirakan janin dalam kandungan Pooh berusia lebih kurang 5 bulan. Itu berarti kami hanya menunggu 1 atau 2 bulan ke depan hingga bayi itu siap dilahirkan.

 

Gambar 2. Pooh menjelang kelahiran Maral (atas) dan Mel (bawah)

Gambar 3. Pooh dan Maral

Gambar 4. Pooh mengajak Maral berjemur di sinar matahari pagi

Di pagi hari sekitar jam 06.30 WIB  pada tanggal 9 Februari 2015, saat pemberian pakan, salah satu perawat satwa kami mendapati Pooh tengah menyusui bayi mungilnya. Ternyata Pooh telah melahirkan, sepertinya prosesnya belum lama terjadi karena tali pusar sang bayi masih menempel di tubuhnya.  Pooh, sang induk terlihat sangat menyanyangi buah hatinya. Meskipun ini kali pertama Pooh melahirkan seorang anak, namun naluri keibuannya amatlah baik. Perlahan ia belajar untuk membuat bayinya senyaman mungkin berada dalam pelukannya, begitu pula saat ia beraktivitas. Kini Pooh semakin lincah dan tak ragu-ragu untuk membawa bayinya berkeliling kandang, berayun, bahkan melompat sekalipun. Mel sang ayah juga terlihat antusias terhadap kehadiran Maral, sang buah hati. Namun, ia sedikit membatasi diri untuk tidak terlalu mengikuti Pooh dan membiarkannya mengambil makanan yang disiapkan untuknya demi Pooh dan Maral.

  • PDF
  • Cetak

Keluarga Harmonis Siap Meramaikan Hutan Lindung Gunung Puntang

  • Rabu, 12 Maret 2014 14:06
  • Terakhir Diupdate ( Rabu, 12 Maret 2014 14:50 )
  • Oleh Administrator

Setelah pasangan Echi-Septa dan Sadewa-Kiki yang berturut-turut dilepasliarkan pada 16 Oktober 2009 dan 15 Juni 2013, kini giliran sebuah keluarga owa jawa harmonis yang terdiri dari 4 individu. Ini adalah kali pertama pelepasliaran sebuah keluarga owa jawa. Sang Ayah bernama Jowo, sang Ibu bernama Bombom, kemudian Yani adalah anak pertama mereka yang berumur 3 tahun 8 bulan dan Yudi yang masih berumur 9 bulan. Kedua anak mereka, Yani dan Yudi, terlahir di Javan Gibbon Center (JGC).

Keluarga Jowo dan Bombom (kiri ke kanan: Yani, Jowo, Bombom, dan Yudi)

 

Bersama menghangatkan tubuh dengan sinar matahari pagi

Yani (kanan) sedang menelisik tubuh sang ayah, Jowo (kiri)

Si kecil Yudi beraksi berjalan bipedal pada ranting pohon

Jowo dan Bombom menjadi penghuni JGC sejak 13 April 2008 yang ditranslokasi dari KONUS, Bandung. Tidak sampai 2 bulan kemudian mereka saling dikenalkan satu sama lain dan menjadi pasangan tetap sejak 1 Juni 2008. Keduanya kini diperkirakan berumur sekitar 15 tahun. Yani, anak pertama dari pasangan ini, lahir pada 21 Juli 2010 sedangkan Yudi terlahir pada 7 Juni 2013, hampir 3 tahun setelah kelahiran Yani.

Pengamatan perilaku dan aktivitas harian dari keluarga ini terus dilakukan dan ternyata mereka telah memenuhi kriteria-kriteria pelepasliaran. Oleh karenanya persiapan pelepasliaran kembali dilakukan di Gunung Puntang yang merupakan kawasan hutan lindung dibawah pengelolaan Perum Perhutani di kawasan Bandung Selatan pada bulan Desember 2013 lalu dengan membangun sebuah kandang habituasi pada ketinggian ±1700 meter dpl.

Kesiapan terhadap hewan juga terus dilakukan dengan menjaga serta meningkatkan kondisi kesehatannya hingga akhirnya hewan ditranslokasi dari fasilitas rehabilitasi JGC di Bogor menuju ke kandang habituasi di Bandung pada tanggal 26 Februari 2014 lalu. Kini keluarga Jowo dan Bombom tengah menjalani masa adaptasi menuju pelepasliaran yang direncanakan pada 27 Maret 2014 mendatang. Sapaan keluarga ini di pagi hari selalu terdengar melalui nyanyian “morning call”.

MARI BERSAMA KITA JAGA KELESTARIAN MEREKA!!

Setelah pasangan Echi-Septa dan Sadewa-Kiki yang dilepasliarkan pada 2009 dan 2013, kini giliran sebuah keluarga owa jawa harmonis yang terdiri dari 4 individu. Sang Ayah bernama Jowo, sang Ibu bernama Bombom, kemudian Yani adalah anak pertama mereka yang berumur 3 tahun 8 bulan dan Yudi yang masih berumur 9 bulan.

Jowo dan Bombom menjadi penghuni Javan Gibbon Center (JGC) sejak 13 April 2008 yang ditranslokasi dari KONUS, Bandung. Tidak sampai 2 bulan kemudian mereka saling dikenalkan satu sama lain dan menjadi pasangan tetap sejak 1 Juni 2008. Keduanya diperkirakan berumur sekitar 15 tahun. Yani, anak pertama dari pasangan ini, lahir pada 21 Juli 2010 sedangkan Yudi terlahir pada 7 Juni 2013, hampir 3 tahun setelah kelahiran Yani.

Pengamatan perilaku dan aktivitas harian dari keluarga ini terus dilakukan dan ternyata mereka telah memenuhi kriteria-kriteria pelepasliaran. Oleh karenanya persiapan pelepasliaran kembali dilakukan di Gunung Puntang yang merupakan kawasan hutan lindung dibawah pengelolaan Perum Perhutani di kawasan Bandung Selatan pada bulan Desember 2013 lalu dengan membangun sebuah kandang habituasi pada ketinggian ±1700 meter dpl.

Kesiapan terhadap hewan juga terus dilakukan dengan menjaga serta meningkatkan kondisi kesehatannya hingga akhirnya hewan ditranslokasi dari fasilitas rehabilitasi JGC di Bogor menuju ke kandang habituasi di Bandung pada tanggal 26 Februari 2014 lalu. Kini keluarga Jowo dan Bombom tengah menjalani masa adaptasi menuju pelepasliaran yang direncanakan pada 27 Maret 2014 mendatang. Sapaan keluarga ini di pagi hari selalu terdengar melalui nyanyian “morning call”.

 

Halaman 4 dari 11